Arif B Sholihah

Entries Tagged as 'Arsitektur dan Desain'

Architecture for All(1)

January 31st, 2009 · 11 Comments

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling
karena telah datang seorang buta kepadanya*
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup**
maka kamu melayaninya, padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman) dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran)
sedang ia takut kepada (Allah)
maka kamu mengabaikannya
sekali-kali jangan (demikian)! sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan
maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya
di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan
di tangan para penulis (malaikat) yang mulia dan berbakti"

(Qs. Abasa 1-16)

Sepenggal surat Abasa diatas turun setelah datang kepada Rasul SAW seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada beliau untuk meminta ajaran-ajaran tentang Islam, namun Rasul SAW bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah ayat-ayat ini sebagai teguran kepada Rasulullah SAW.

Kisah diatas memberikan kita gambaran, bahwa seorang Rasul pun pernah melakukan kealpaan. Hingga Allah SWT sendiri memberinya teguran melalui ayat-ayat suci Al Quran. Kealpaan tentang memperlakukan semua orang dengan equal, adil, tanpa diskriminasi. Contoh kealpaan diatas sangat relevan dengan dunia arsitektur kita hingga dewasa ini, terutama dalam mewujudkan arsitektur yang dapat digunakan oleh semua, termasuk orang buta, pemakai kursi roda, orang tua yang telah lemah mobilitasnya, dan orang-orang lain yang memiliki kemampuan "yang berbeda" dalam mengakses dan menggunakan arsitektur.

(to be continued)

Tags: Arsitektur dan Desain

Mengatasi Pemanasan Global dari Rumah Kita

January 7th, 2009 · 12 Comments

Sebagaimana kita ketahui, pemanasan global dapat diartikan sebagai proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Dalam dua puluh tahun terakhir, suhu bumi meningkat drastis dengan rata-rata penyimpangan lebih dari 0,6 ' celcius.

Penyebab Pemanasan Global

Penyebab utama yang paling sering disebut adalah adanya "efek rumah kaca". Sebagian panas matahari tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Penyebab lainnya antara lain adalah adanya efek umpan balik cahaya dan variasi penyinaran matahari ke bumi.

Bangunan, Energi dan Emisi Karbon

“Buildings use 40% of the total energy in the US and European Union”

Di Indonesia, pemakaian energi dalam sebuah rumah tangga terus mengalami peningkatan. Sektor industri dan perumahan adalah pemakai energi terbesar. Rumah tangga menggunakan energi untuk menyalakan berbagai peralatan elektronik, seperti kulkas, penyejuk ruangan, dan lampu penerangan yang melepaskan lebih dari ratusan ton CO2 ke atmosfer setiap tahun. Listrik adalah energi yang bersih, namun dalam menghasilkannya bahan bakar fosil masih mendominasi.

Pengguna listrik di Indonesia:

Perumahan 40%, industri 45%, Fas. Komersial 11%, Fas. Sosial 2%, Lampu jalan 1%, bangunan pemerintah 1%. (NG Indonesia, 2008). Bahan bakar fosil, gas, ataupun minyak tanah yang kita gunakan untuk memasak serta sampah yang kita hasilkan sehari-hari juga ikut menyumbang CO2.

CO2 yang dihasilkan alat-alat rumah tangga

Dengan mengalikan jumlah KwH (kilo watt hour) yang kita gunakan dengan 0,6, kita akan tahu jumlah emisi yang dikeluarkan. (faktor konversi rata-rata pembangkit listrik di Indonesia)

Alat rumah tangga Ton CO2 yang dihasilkan per tahun : 1) Printer (inkjet atau all in one) (8); 2) Desktop PC (161);3) Laptop (48); 4) Kipas Angin (42); 5)Mesin Cuci (36); 6) Setrika (121); 7)TV (221); 8)Pemutar CD (20); 9) Pengeras Suara (100); 10)AC (904); 11) Pemanas air (201)12) Kulkas (241), dan Sampah Setiap tahun tiap orang Indonesia membuang 4,5 kg sampah dan menghasilkan 64,8 kg CO2/tahun

Apa yang bisa kita lakukan dari rumah kita

1. Gunakan energi alternatif (tenaga surya, air,biomassa, angin, uranium)

Biaya invenstasi panel surya masih relatif mahal (300 juta/rumah), namun ke depannya biaya tersebut akan semakin berkurang namun manfaatnya semakin besar. Ketergantungan pada energi fosil akan terus berkurang

2. Konsep Zero Energy Building (ZEB)

Yaitu konsep bangunan yang tanpa energi. “Tanpa energi” disini dapat diartikan sebagai:

- energi yang dihasilkan dalam bangunan setara dengan jumlah energi yang digunakan oleh bangunan tersebut (tidak perlu pasokan energi dari luar)
- bangunan 100% menggunakan energi yang dapat diperbaharui, baik dihasilkan di dalam maupun di luar bangunan

ZEB dapat diukur dari penggunaan Kwh listrik PLN dalam bangunan, semakin kecil KwH yang digunakan semakin dianggap sebuah bangunan menerapkan konsep ZEB. Penggunaan energi alternatif sebagai pengganti listrik PLN diharapkan bahkan menghasilkan energi tambahan.

Beberapa arahan desain arsitektur pada konsep ZEB:

1. Jumlah bukaan semakin banyak (untuk memasok cahaya matahari dan penghawaan sehingga menurunkan lampu penerangan di siang hari dan pemakaian AC) (Passive Cooling Design)
2. Orientasi matahari sebagai pertimbangan perancangan
3. Pemilihan Penggunaan bahan bangunan yang tidak memerlukan banyak energi pada proses produksinya Hemat BBM dan pada saat terpasang

Kaca yang tidak merefleksikan panas, bahan yang tidak menyebabkan panas, dst

4. Pemilihan alat-alat elektronik

Pemilihan alat-alat elektronik yang ber watt rendah, memiliki label hemat energi, kulkas tanpa CFC. Semakin sedikit energi yang dipakai, semakin hemat dan semakin sedikit emisi yang dihasilkan

5. Reduce, Reuse, Recycle

Setiap tahun tiap orang Indonesia membuang 4,5 kg sampah dan menghasilkan 64,8 kg CO2/tahun. Sampah yang dihasilkan dapat diolah kembali, misalnya menjadi pupuk, sampah plastik didaur ulang, penggunaan barang2 bekas yang masih dapat digunakan, dst

6. Hemat Air

Rata-rata pemakaian air di kota besar di Indonesia 250 liter/orang/hari. Pompa air untuk mengangkat air menghasilkan 352 ton CO2/tahun.

(pernah disampaikan pada talkshow Griya di Radio Unisi, 5 Desember 2008)

Tags: Arsitektur dan Desain

Multifungsi Ruang Jalan dan Kehidupan Publik Kota

August 1st, 2008 · 21 Comments

“Think of a city and what comes to mind? It is the streets. If a city’s street looks interesting the city looks interesting; if they look dull the city looks dull” (Jacobs, 1961)


Begitulah Jane Jacobs di bukunya yang terkenal The Death and Life of Great American Cities mengingatkan kita. Apabila kita berfikir tentang sebuah kota, maka yang akan terbersit pertama kali di benak kita adalah jalan-jalannya. Apabila jalan-jalan di kota tersebut menarik, atraktif, dan semarak, maka menariklah kota tersebut. Tetapi apabila jalanan itu sepi, mati, dan bahkan menakutkan, maka kota tersebut akan menjadi membosankan dan tidak menarik untuk dikunjungi. Kehidupan dan fungsi jalan menjadi salah satu penentu bagi kemenarikan suatu kota.

Multifungsi ruang jalan

Menurut Ellis (1986), jalan dapat dibedakan secara spasial menjadi dua bagian, street space (ruang jalan) dan street wall (dinding/batas jalan). Ruang jalan dapat dimaknai sebagai ruang-ruang dalam kota yang dibatasi oleh dinding bangunan-bangunan dalam kota, tembok-tembok bangunan kota, atau juga bentang alam.

Pada dasarnya, jalan termasuk salah satu diantara beberapa elemen fisik yang paling awal wujud di kota. Bahkan di banyak tempat, jalan adalah embrio bagi lahirnya sebuah kota. Jalan menjadi jaringan aktif yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain dan akhirnya menjadi jalur pergerakan (channel of movement and city network) bagi manusia maupun alat transportasi/kendaraan.

Dalam perkembangannya, fungsi jalan ternyata telah melebar dan kini kita mengenali ruang jalan dengan fungsi yang beragam. Pada suatu ketika jalan akan berfungsi secara komersial. Di Indonesia, bahkan di seantero Asia kita biasa mengenali jalan sebagai area publik untuk melakukan transaksi berjualan. Bahkan di banyak tempat, seperti di Chinatown, Singapura, koridor kaki lima dan ruang jalan di depat ruko yang berjajar itu menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang datang ke kawasan konservasi ini. Disitulah publik melakukan transaksi jual beli di ruang-ruang jalan.

Foto 1: Suasana di City Walk, Chinatown Singapura, ruang jalan menjadi area pedestrian yang semarak dengan fungsinya secara komersial terutama cinderamata
Dok. Arif B Sholihah

Foto 2: Jalan Malioboro Yogyakarta dan Ruang Arcade semi publiknya menjadi area komersial, sosial, dan kultural
Dok. Arif B Sholihah

Pada waktu yang lain, jalan adalah arena untuk berinteraksi sosial. Pada saat ruang jalan itu menarik untuk dikunjungi, maka publik akan berbondong-bondong menggunakannya untuk dapat saling melihat dan dilihat (see and to be seen). Pada fungsi ini, ruang jalan juga sekaligus berfungsi sebagai ruang untuk berkomunikasi (communication space). Ketersediaan street furniture dan public amenities sangat penting dalam kaitannya dengan fungsi ini.

Lebih jauh lagi, pada suatu ketika ruang jalan juga berfungsi sebagai arena representasi budaya lokal. Kita sering menyaksikan kegiatan-kegiatan yang berbasis budaya di jalan-jalan kota. Ritual komunal dan parade-parade budaya biasanya akan ditampilkan di jalan-jalan kota. Koridor panjang ruang kota tersebut, pada saat itu akan berubah menjadi panggung kota yang semarak dan sepenuhnya menjadi milik publik. Sementara di waktu yang lain ruang jalan juga akan menjadi setting bagi iring-iringan kematian begitu juga parade perkawinan, dua suasana berbeda yang muncul jadi satu ruang kota, yaitu ruang jalan.

Bahkan bagi sebagian masyarakat, ruang jalan adalah arena untuk mewujudkan kreatifitas mereka. Di ruang jalanlah musisi jalanan beraksi demikian juga protes sosial dan demonstrasi dilakukan. Untuk fungsi yang terakhir ini, ruang jalan menjadi salah satu arena menyampaikan aspirasi politik di dalam kota. Para seniman bahkan menjadikan ruang jalan bagi “galeri” mereka. Sejak beberapa tahun terakhir ini kita juga menyaksikan dinding pembatas jalan sebagai area berekspresi mereka melalui seni mural kota. Tembok pembatas jalan berubah menjadi karya seni dan bahkan menjadi area untuk menunjukkan “sejarah dan cerita” masyarakat kota tersebut (Hayden, 1995).

Foto 3: Ruang jalan sebagai media aspirasi dan sejarah komunal kota
Dok. Arif B Sholihah

Ruang Jalan-jalan di Indonesia

Dari sekian banyak fungsi dan makna jalan bagi publik, ternyata dewasa ini tidak selamanya sebuah ruang jalan mampu mewujudkan multifungsi diatas. Jalan-jalan di kota-kota besar dunia, termasuk di Indonesia lebih banyak didominasi oleh fungsinya sebagai jalur pergerakan. Kendaraan bermotor mendominasi hampir setiap jengkal ruang jalan bahkan hingga ke jalur pejalan kaki. Sangat jarang kita menemukan jalur pejalan kaki yang nyaman, aman, dan aksesibel bagi semua. Belum lagi kenyamanan udara dan audial bagi pejalan kaki yang sangat sulit kita temukan.

Selain itu, fungsi ruang jalan sebagai arena komersial juga cukup dominan. Hanya saja tidak adanya penataan yang memadai kadang membuat fungsinya sebagai ruang publik cukup terganggu. Pedagang kaki lima mengklaim ruang publik pejalan kaki sebagai tempat berdagang tanpa menyisakan ruang yang cukup nyaman bagi para pengguna jalan. Belum lagi jika kita bicara mengenai penyandang cacat tentu akan lebih pelik lagi.

Reinterpretasi Fungsi Jalan

Mengembalikan kehidupan publik ke ruang jalan dan menjadikan jalan itu memiliki fungsi yang beragam, kini menjadi bahasan utama para perancang kota dunia. Kota-kota seperti Copenhagen dengan Stroget Street-nya, Barcelona dengan kawasan La Rambla-nya, Singapura, dengan Chinatown-nya, dan Curitiba, Brazil dengan ruang publik yang aksesibel-nya telah berupaya dengan sungguh-sunggguh untuk mengembalikan kehidupan publik ke jalan-jalan kota.

Ruang jalan yang tadinya telah didominasi oleh kendaraan bermotor dan mati oleh kegiatan publik, kini dikelola kembali agar terjadi keseimbangan fungsi ruang jalan. Aktivitas yang semarak pada ruang jalan yang berkualitas secara estetika dan desain dipadu dengan sense of place yang kuat menjadi harapan terciptanya jalan yang hidup dan berfungsi publik secara optimal. Bahkan paradigma menjadikan ruang jalan sebagai jalur pedestrian penuh banyak digunakan untuk lebih membuat ruang-ruang jalan itu lebih menarik.

Di Indonesia, paradigma mengembalikan multifungsi ruang jalan ini tampaknya juga sudah mulai dilirik oleh para perancang kawasan. Meski masih terbatas pada kawasan-kawasan “semi publik” semacam Centro Havana di BSD atau rencana Malioboro Walk di Yogya, namun ini membawa angin segar untuk lebih menyemarakkan ruang jalan. Sehingga ruang jalan tidak hanya merupakan jalur pergerakan saja, akan tetapi kehidupan publik seperti menjadikan jalan sebagai area interaksi sosial, ruang berkomunikasi, ruang komersial, ruang berkreasi seni, ruang prosesi ritual, ruang ekspresi budaya lokal, dan bahkan fungsi jalan sebagai arena untuk berekspresi secara politik pun dapat diakomodir pada ruang-ruang jalan kita.

Sementara itu, revitalisasi ruang jalan yang telah memiliki aktivitas publik yang mengakar dengan meningkatkan kualitas ruang jalan secara estetika arsitektural semestinya menjadi metode para pihak berwenang kota. Kawasan pusaka kota salah satunya, memerlukan upaya penghidupan kembali dengan menyuntikkan dan memicu akar kehidupan publik di ruang jalan. Sehingga tidak perlu menikmati ruang publik yang semarak sampai ke Eropa, tetapi cukup ke Pecinan Semarang, Jalan Malioboro Yogya, atau mungkin ruang jalan di kota kita sendiri dapat kita semarakkan dengan beragam aktivitas publik dan kreatifitasnya.

Tags: Arsitektur dan Desain

Masjid Lebuh Aceh, Jejak Masjid Nusantara di Georgetown

July 30th, 2008 · 18 Comments

Kompas Minggu, 9 Januari 2005

"PADA waktu itu orang-orang Aceh banyak sekali berdagang di Pulau Pinang, kalau bagi orang yang baharu datang seperti Teuku Nyak Putih, tidaklah akan merasa sunyi....

Setelah beberapa hari Teuku Nyak Putih berada di Pulau Pinang, ia telah merasa bahawa dia bukannya sampai di satu tempat yang baharu, melainkan di salah sebuah kota besar di negeri sendiri". (Abdullah Hussain, 1984)

PENANG, orang Malaysia mengejanya dengan ejaan keinggris-inggrisan, Peneng, atau dengan sebutan lengkapnya Pulau Pinang, terletak di pantai barat Semenanjung Malaysia. Kini tempat itu dapat ditempuh dengan jalan darat dari arah ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, melalui jembatan sepanjang 13 kilometer, atau dapat juga ditempuh dari Medan dengan kapal feri. Penang kini lebih dikenal sebagai kota industri dan mata pencaharian mayoritas penduduknya berhubungan dengan sektor ini. Investasi di Penang yang sangat pesat menjadikannya sebagai salah satu kota terbesar di Malaysia.

Pantai dan alamnya yang indah menjadikan Penang juga dikenal sebagai salah satu tujuan wisata utama di Malaysia. Pernah dikenal dengan julukan Pearl of the Orient, Penang bukanlah pulau asing bagi masyarakat serantau (Nusantara dan sekitarnya). Pusat kota Pulau Penang terletak di pesisir pantai yang dikenal dengan nama Georgetown. Tempat ini hingga kini masih menyisakan eksotisme kota lama, dengan arsitektur dari berbagai bangsa dan etnis.

SALAH satu yang menarik adalah enklave Lebuh Aceh di jantung Georgetown, berhadapan dengan enklave Kuil Khoo Kong Si. Lebuh Aceh ini memiliki luas 66.000 kaki persegi dengan masjid sebagai penandanya. Sementara permukiman dan rumah kedai mengelilinginya sehingga membentuk perimeter block dengan masjid dan ruang terbuka di tengah-tengahnya.

Sejarah masjid dan enklavenya ini berawal dari tahun 1792. Ditandai dengan kedatangan pendirinya, yaitu Tengku Syed Hussain Al-Idid, seorang bangsawan dari Aceh keturunan Arab dari Hadramaut, Yaman, yang kemudian menetap di Penang. Tengku Syed Hussain Al-Idid ini kemudian menjadi pedagang Aceh yang kaya dan sukses ketika Penang baru dibuka oleh Kapten Sir Francis Light pada akhir abad ke-18.

Dengan kekayaan yang dimilikinya, Tengku Syed Hussain Al-Idid dengan bantuan keluarga dan pengikutnya membuka kawasan di Lebuh Aceh. Dia mendirikan masjid, menara, rumah kediaman, deretan rumah kedai, Madrasah Al Quran, dan kantor perdagangan. Bagi masyarakat Aceh khususnya dan Nusantara umumnya, Penang bukanlah sebuah tempat asing. Snouck Hurgronje, ahli ilmu agama Islam yang menuliskan catatan tentang Aceh pada tahun 1892 pun menyatakan bahwa "bagi masyarakat Aceh, Penang adalah gerbang menuju dunia dalam banyak hal, terutama juga untuk memasarkan produk mereka langsung menuju Eropa".

Kejayaan masyarakat Aceh di Penang tidak terbatas hanya pada masa Tengku Syed Al-Idid, tetapi selepas kematian beliau pada pertengahan abad ke-19, perkampungan ini terus berkembang maju dan telah mencapai kegemilangannya hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Teuku Nyak Putih, ayahanda seniman legendaris melayu P Ramlee pun adalah satu di antara banyak orang Aceh yang sukses di Penang.

Keharuman nama para pedagang Aceh di masa silam ini terpancar pula dari keindahan arsitektur masjid ini. Arsitektur Masjid Lebuh Aceh ini cukup unik karena merupakan gabungan dari gaya Moor, China, dan Klasik. Menara persegi delapan yang berada di sisi utara tepat di pintu masuknya berbentuk seakan pagoda China. Sementara gaya Moor terlihat dari lengkung dan juga plester yang menghiasi dinding dan bagian mihrab. Tiang Klasik berukuran besar tampak menghiasi beranda masjid ini yang lebih mirip seperti pendopo masjid-masjid di Sumatera dan Jawa. Sebagaimana masjid-masjid kuno di Nusantara lainnya, di belakang masjid ini berderet makam orang-orang yang berkaitan erat dengan masjid ini, termasuk Tengku Syed Al-Idid sendiri beserta kerabatnya.

Berbeda dengan masjid yang seluruh dindingnya menggunakan batu bata, kebanyakan rumah tinggal di Lebuh Aceh justru mencerminkan rumah tradisional. Bahan dinding didominasi kayu dengan pintu berdaun dan ukiran kerawang. Terdapat juga beberapa rumah bercirikan rumah tradisional kota yang menggunakan bahan batu bata di tingkat bawah dan bahan kayu di tingkat atas.

Selain masjid dan rumah tinggal, rumah-rumah kedai yang mengelilingi kawasan ini memiliki keindahan arsitektur yang menarik. Terdapat tiga gaya arsitektur di sini, yaitu arsitektur tradisional, klasik, dan straits eclectic.

Rumah kedai yang berarsitektur tradisional atau permanen awal ini berderet antara Nomor 77-81, Acheen Street. Jenis rumah kedai ini tidak mempunyai lorong kaki lima di tingkat bawah, sedangkan di tingkat atasnya terdapat jendela kayu berdaun.

Jenis rumah kedai Klasik terdapat di alamat Nomor 83-87, Acheen Street. Pengaruh arsitektur klasik tampak pada fasad bangunan seperti tiang bergaya Corinthia di tingkat bawah, pilaster, jendela lengkung, dan ukiran klasik pada dinding. Lorong kaki lima terdapat pada rumah kedai jenis ini.

Sementara arsitektur straits eclectic, yaitu arsitektur campuran berbagai bentuk yang terdapat pada masyarakat sekitar Selat Malaka seperti di Penang, Melaka, atau Singapura tampak pada rumah yang beralamat di Nomor 47-55, Acheen Street. Rumah-rumah kedai ini memiliki lorong kaki lima, tiang pendukung, dinding penghalang (party walls), serta sumur udara di dalam interiornya, sebagaimana rumah- rumah kedai pada permukiman masyarakat selat lainnya.

KOMPLEKS Masjid Lebuh Aceh dan bangunan di sekelilingnya merupakan tanah wakaf yang tidak dapat diperjualbelikan. Secara turun-temurun kawasan ini ditinggali tidak hanya oleh masyarakat Aceh di Penang, tetapi juga dari Arab, Yaman, dan Melayu sendiri. Apalagi letak Lebuh Aceh ini yang berdekatan dengan permukiman dari berbagai bangsa dan etnis. Georgetown memang dikenal sebagai kawasan majemuk yang berasal dari etnis dan agama berbeda. Semua itu hingga kini masih terpancar dari arsitektur bangunan di dalamnya.

Masjid Lebuh Aceh ini semakin istimewa karena tidak hanya berfungsi sebagai basis masyarakat Islam di Penang, namun juga menjadi "Jeddah kedua" bagi masyarakat serantau yang akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Kompleks ini senantiasa dipadati jemaah sepanjang musim haji, dan bahkan hampir sepanjang tahun. Perjalanan dengan kapal laut saat itu yang memakan waktu hampir setengah tahun menjadikan kompleks masjid ini didiami pengantar jemaah haji dan selama menunggu jemaah pulang dari Tanah Suci. Begitu seterusnya hingga musim haji berikutnya tiba. Berbagai jenis perdagangan dari mulai rempah ratus, bazar makanan, percetakan buku-buku agama Islam, warung makan, hingga jasa pengurusan haji mengelilingi kesemarakan masjid ini.

TRADISI mengunjungi Masjid Lebuh Aceh sebelum pergi haji kini semakin lama semakin pudar. Keramaian suasana semakin berkurang. Kini Masjid Lebuh Aceh hanya digunakan dua kali shalat Jumat dalam sebulan bergantian dengan Masjid Kapitan Keling yang juga berada di salah satu blok kota lama Georgetown ini.

Keberadaannya yang semakin renta menggerakkan sejumlah pelestari warisan budaya untuk memugar masjid ini. Pada akhir dekade 1990-an masjid yang sudah berumur lebih dari 200 tahun ini dipugar dan dikonservasi sebagaimana bentuk aslinya oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan Universiti Sains Malaysia dengan dana dari pihak pemerintah bandaraya Penang. Tidak tanggung-tanggung Gubernur Aceh pada saat itu, Profesor Syamsudin Mahmud, pun turut berkunjung pada saat bangunan dipugar.

Meski demikian, kompleks enklave ini kini masih terus menjadi sengketa. Meski statusnya sebagai tanah wakaf yang tidak dapat diperjualbelikan, letaknya yang strategis di pusat kota dan tingginya nilai lahan di Georgetown ini menjadikan kompleks bangunan di sekeliling Masjid Lebuh Aceh diincar banyak pihak. Isu-isu manajemen tanah wakaf, konservasi, dan kepentingan kapital menjadi mengemuka. Permasalahan ini cukup merisaukan banyak pihak, mengingat kompleks masjid ini merupakan warisan arsitektur sekaligus saksi sejarah bangsa kita di negeri tetangga, Malaysia.

Arif B Sholihah Dosen Jurusan Arsitektur, Universitas Islam Indonesia, Graduate Student University of Technology Malaysia

Tags: Arsitektur dan Desain