Arif B Sholihah

Mengatasi Pemanasan Global dari Rumah Kita

January 7th, 2009 · 12 Comments

Sebagaimana kita ketahui, pemanasan global dapat diartikan sebagai proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Dalam dua puluh tahun terakhir, suhu bumi meningkat drastis dengan rata-rata penyimpangan lebih dari 0,6 ' celcius.

Penyebab Pemanasan Global

Penyebab utama yang paling sering disebut adalah adanya "efek rumah kaca". Sebagian panas matahari tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Penyebab lainnya antara lain adalah adanya efek umpan balik cahaya dan variasi penyinaran matahari ke bumi.

Bangunan, Energi dan Emisi Karbon

“Buildings use 40% of the total energy in the US and European Union”

Di Indonesia, pemakaian energi dalam sebuah rumah tangga terus mengalami peningkatan. Sektor industri dan perumahan adalah pemakai energi terbesar. Rumah tangga menggunakan energi untuk menyalakan berbagai peralatan elektronik, seperti kulkas, penyejuk ruangan, dan lampu penerangan yang melepaskan lebih dari ratusan ton CO2 ke atmosfer setiap tahun. Listrik adalah energi yang bersih, namun dalam menghasilkannya bahan bakar fosil masih mendominasi.

Pengguna listrik di Indonesia:

Perumahan 40%, industri 45%, Fas. Komersial 11%, Fas. Sosial 2%, Lampu jalan 1%, bangunan pemerintah 1%. (NG Indonesia, 2008). Bahan bakar fosil, gas, ataupun minyak tanah yang kita gunakan untuk memasak serta sampah yang kita hasilkan sehari-hari juga ikut menyumbang CO2.

CO2 yang dihasilkan alat-alat rumah tangga

Dengan mengalikan jumlah KwH (kilo watt hour) yang kita gunakan dengan 0,6, kita akan tahu jumlah emisi yang dikeluarkan. (faktor konversi rata-rata pembangkit listrik di Indonesia)

Alat rumah tangga Ton CO2 yang dihasilkan per tahun : 1) Printer (inkjet atau all in one) (8); 2) Desktop PC (161);3) Laptop (48); 4) Kipas Angin (42); 5)Mesin Cuci (36); 6) Setrika (121); 7)TV (221); 8)Pemutar CD (20); 9) Pengeras Suara (100); 10)AC (904); 11) Pemanas air (201)12) Kulkas (241), dan Sampah Setiap tahun tiap orang Indonesia membuang 4,5 kg sampah dan menghasilkan 64,8 kg CO2/tahun

Apa yang bisa kita lakukan dari rumah kita

1. Gunakan energi alternatif (tenaga surya, air,biomassa, angin, uranium)

Biaya invenstasi panel surya masih relatif mahal (300 juta/rumah), namun ke depannya biaya tersebut akan semakin berkurang namun manfaatnya semakin besar. Ketergantungan pada energi fosil akan terus berkurang

2. Konsep Zero Energy Building (ZEB)

Yaitu konsep bangunan yang tanpa energi. “Tanpa energi” disini dapat diartikan sebagai:

- energi yang dihasilkan dalam bangunan setara dengan jumlah energi yang digunakan oleh bangunan tersebut (tidak perlu pasokan energi dari luar)
- bangunan 100% menggunakan energi yang dapat diperbaharui, baik dihasilkan di dalam maupun di luar bangunan

ZEB dapat diukur dari penggunaan Kwh listrik PLN dalam bangunan, semakin kecil KwH yang digunakan semakin dianggap sebuah bangunan menerapkan konsep ZEB. Penggunaan energi alternatif sebagai pengganti listrik PLN diharapkan bahkan menghasilkan energi tambahan.

Beberapa arahan desain arsitektur pada konsep ZEB:

1. Jumlah bukaan semakin banyak (untuk memasok cahaya matahari dan penghawaan sehingga menurunkan lampu penerangan di siang hari dan pemakaian AC) (Passive Cooling Design)
2. Orientasi matahari sebagai pertimbangan perancangan
3. Pemilihan Penggunaan bahan bangunan yang tidak memerlukan banyak energi pada proses produksinya Hemat BBM dan pada saat terpasang

Kaca yang tidak merefleksikan panas, bahan yang tidak menyebabkan panas, dst

4. Pemilihan alat-alat elektronik

Pemilihan alat-alat elektronik yang ber watt rendah, memiliki label hemat energi, kulkas tanpa CFC. Semakin sedikit energi yang dipakai, semakin hemat dan semakin sedikit emisi yang dihasilkan

5. Reduce, Reuse, Recycle

Setiap tahun tiap orang Indonesia membuang 4,5 kg sampah dan menghasilkan 64,8 kg CO2/tahun. Sampah yang dihasilkan dapat diolah kembali, misalnya menjadi pupuk, sampah plastik didaur ulang, penggunaan barang2 bekas yang masih dapat digunakan, dst

6. Hemat Air

Rata-rata pemakaian air di kota besar di Indonesia 250 liter/orang/hari. Pompa air untuk mengangkat air menghasilkan 352 ton CO2/tahun.

(pernah disampaikan pada talkshow Griya di Radio Unisi, 5 Desember 2008)

Tags: Arsitektur dan Desain

12 responses so far ↓

Leave a Comment

*