Arif B Sholihah

Arsitektur, Ruang Kota dan Simbol Kekuasaan

December 1st, 2008 · 11 Comments

sambil nunggu monev dikti, nulis dulu ah...

Beberapa waktu terakhir ini dunia dibuat ternganga oleh dua peristiwa besar di dua kota besar Asia. Pertama adalah Bangkok, Krung Thep yang berarti kota malaikat dalam bahasa Thai ini telah menyaksikan serentetan demostrasi massa yang telah berlangsung berbulan-bulan, tak berhenti satu hari pun. Malah seminggu lalu, highway menuju bandara internasional Suvarnabhumi yang baru beroperasi dua tahun lalu diblokir massa. Tujuan utamanya satu, agar PM Somchai yang sedang berada di Peru tidak dapat kembali ke negrinya. Sebuah ekspresi yang memukau publik dunia. Bagaimana tidak, bandara sebagai “gateway” utama menuju sebuah negara di era sekarang ini telah menjadi “place” yang tidak dapat tergantikan, sehingga seorang PM sekalipun menjadi kesulitan untuk kembali ke rumahnya sendiri.

Berbeda dengan Bangkok, Mumbai, ibukota film bollywood India diguncang terror. Suasana mencekam tidak hanya dirasakan di tempat kejadian, namun di seluruh dunia, ketika media-media internasional secara ekslusif memberitakannya. Adalah Hotel Tajmahal dan Hotel Oberoi/Trident tempat eksekusi utama para korban teroris yang menewaskan lebih dari 190 orang tersebut menjadi venue yang sangat “mengerikan”. Sangat kontras dengan penampilan arsitekturnya.

Hotel Taj selesai dibangun tahun 1903 dan segera menjadi hotel terbaik di India. Bahkan menjadi “simbol kosmopolitan” negeri tersebut. Meski bernama serupa monumen Taj Mahal yang terkenal itu, hotel ini didesain tidak dengan gaya Taj Mahal yang asli, namun dengan dekorasi arsitektur bergaya campuran antara Spanyol (abad ke-8 hingga ke-16), Italia (abad ke-14 hingga ke-16) dan Oriental. Sejak era sebelum kemerdekaan hingga kini, hotel ini sibuk melayani tamu maharaja, hingga kepala negara (Kompas, 29/11/08, hal.10).

Keindahan arsitektur adalah satu hal, namun bagaimana jika darah bersimbah di sepanjang lorong dan ruangnya selama aksi terror berlangsung. Sebuah paradox yang sempurna. Satu hal yang jelas, para aktor terror tersebut, siapapun mereka, telah menempatkan Hotel Taj sebagai “simbol kekuasaan” yang ingin mereka usik ketenangannya. Serupa dengan yang dilakukan para demonstran di Bangkok. Suvarnabhumi tidak hanya berfungsi pragmatis sebagai fasilitas transportasi udara namun telah menjelma menjadi landmark baru sebagai “simbol kekuasaan” rezim Somchai, tempat mereka memperjuangkan perubahan.

Tags: Uncategorized

11 responses so far ↓

Leave a Comment

*