Arif B Sholihah

Entries from December 2008

Masjid Tua di Belakang Adisucipto: Sebuah Catatan tentang "Sense of Place"

December 21st, 2008 · 25 Comments

Kalo Relphs di tahun 1972 merilis bukunya yang berjudul Place and Placelessness,...yang kurang lebih isinya tentang ruang-ruang arsitektur dan ruang kota yang mudah "diingat" atau "dicitrakan" dan ruang-ruang yang "mudah dilupakan" maka beberapa paragraf dibawah ini adalah untuk mengingat kembali apakah kata-kata Relphs hampir 40 tahun yang lalu itu masih relevan...selamat membaca...:)

We live, act and orient ourselves in a world that is richly and profoundly differentiated into places, yet at the same time we seem to have a meagre understanding of the constitution of places and the ways in which we experience them (Relphs, 1972).

Meski sudah 2 kali saya mengunjungi tempat ini, sebuah tempat yang entah mengapa saya selalu lupa menyebutnya...hanya nama yang selalu terngiang adalah Masjid Tua di belakang Bandara Adisucipto. Mungkin "bandara" sebagai modern "place" telah lebih "mudah diingat" dibandingkan nama obyek bangunan masjid itu sendiri. Paling tidak untuk saya (untuk ikut menyepakati pembenaran kata-kata Juliet's Shakespeare... "What's in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet"...heheh

Teman yang mengajak saya datang ke tempat ini menyebut masjid ini adalah salah satu dari sekian Masjid Pathok Negoro di Yogyakarta. Yaitu sebuah sebutan untuk beberapa masjid tua yang sengaja dibangun oleh pihak pemerintah Mataram Yogya di abad 19 untuk "memagari" negara, atau paling tidak ibukota, Ngayogyakarta Hadiningrat. Benar atau tidaknya masjid ini adalah salah satu masjid Pathok Negoro, saya sendiri belum tahu, tapi secara arsitektural bangunan ini memang memiliki tipologi sebagaimana masjid-masjid kraton di jawa lainnya, yaitu masjid piramidal bersusun tiga.

Menyusuri jalan menuju masjid ini lebih saat ingat, yaitu dari jalan solo kita musti belok ke selatan naik ke jembatan layang, lalu belok kiri di kawasan blok O, jalan pedesaan yang cukup kontras dengan ringroad yang cenderung menjadi "highway". Selokan kecil dengan air bening di kiri jalan sulit dilupakan, sebelum kita tiba-tiba disergap rimbunan tebu gula yang akan mengantar kita ke lorong menuju Masjid Tua ini.

Cahaya matahari belum sempurna pagi itu, tapi justru pendar sinarnya yang mengenai beberapa bagian dinding bangunan dengan pohon beringin tua yang menjaganya menjadi tampak sempurna. memasuki halaman masjid, seperti masuk ke pintu waktu, dikala beberapa ratus tahun lalu tempat ini makmur oleh penyebaran islam di kawasan sekitarnya.

Architecturally speaking, desain masjid dan tatanan lansekapnya nampak begitu harmonis. bangunan yang simetris, elemen kolom kayu dan permainan warna hijau kuning membawa citra masjid jawa yang sangat kental. Meski dengan proporsi bangunan yang tidak sebesar masjid di angkatannya, namun justru proporsi bangunan ini nampak sempurna dengan konteks lingkungannya. Masih sebagaimana masjid jawa yang lainnya, di belakang bangunan ini terdapat makam yang dihuni oleh pendiri dan orang-orang di jamannya yang berkait langsung atau tidak dengan tempat ini.

Suasana hening, sepi, dan syahdu lebih dominan di tempat ini. Saya bahkan tidak tahu apakah masjid tua ini digunakan sebagai Friday Mosque atau tidak. Meski secara luasan, saya kira sangat memenuhi syarat. Satu hal, dulu masjid ini pasti pernah makmur. Ramai, dan digunakan oleh masyarakat sekelilingnya. Namun sejak pemukiman di sekitarnya digusur pada saat perluasan pembangunan bandara di tahun 1970an masjid ini menjadi sendiri. Ditinggalkan komunitasnya.

(to be continued)

Tags: Uncategorized

Arsitektur, Ruang Kota dan Simbol Kekuasaan

December 1st, 2008 · 11 Comments

sambil nunggu monev dikti, nulis dulu ah...

Beberapa waktu terakhir ini dunia dibuat ternganga oleh dua peristiwa besar di dua kota besar Asia. Pertama adalah Bangkok, Krung Thep yang berarti kota malaikat dalam bahasa Thai ini telah menyaksikan serentetan demostrasi massa yang telah berlangsung berbulan-bulan, tak berhenti satu hari pun. Malah seminggu lalu, highway menuju bandara internasional Suvarnabhumi yang baru beroperasi dua tahun lalu diblokir massa. Tujuan utamanya satu, agar PM Somchai yang sedang berada di Peru tidak dapat kembali ke negrinya. Sebuah ekspresi yang memukau publik dunia. Bagaimana tidak, bandara sebagai “gateway” utama menuju sebuah negara di era sekarang ini telah menjadi “place” yang tidak dapat tergantikan, sehingga seorang PM sekalipun menjadi kesulitan untuk kembali ke rumahnya sendiri.

Berbeda dengan Bangkok, Mumbai, ibukota film bollywood India diguncang terror. Suasana mencekam tidak hanya dirasakan di tempat kejadian, namun di seluruh dunia, ketika media-media internasional secara ekslusif memberitakannya. Adalah Hotel Tajmahal dan Hotel Oberoi/Trident tempat eksekusi utama para korban teroris yang menewaskan lebih dari 190 orang tersebut menjadi venue yang sangat “mengerikan”. Sangat kontras dengan penampilan arsitekturnya.

Hotel Taj selesai dibangun tahun 1903 dan segera menjadi hotel terbaik di India. Bahkan menjadi “simbol kosmopolitan” negeri tersebut. Meski bernama serupa monumen Taj Mahal yang terkenal itu, hotel ini didesain tidak dengan gaya Taj Mahal yang asli, namun dengan dekorasi arsitektur bergaya campuran antara Spanyol (abad ke-8 hingga ke-16), Italia (abad ke-14 hingga ke-16) dan Oriental. Sejak era sebelum kemerdekaan hingga kini, hotel ini sibuk melayani tamu maharaja, hingga kepala negara (Kompas, 29/11/08, hal.10).

Keindahan arsitektur adalah satu hal, namun bagaimana jika darah bersimbah di sepanjang lorong dan ruangnya selama aksi terror berlangsung. Sebuah paradox yang sempurna. Satu hal yang jelas, para aktor terror tersebut, siapapun mereka, telah menempatkan Hotel Taj sebagai “simbol kekuasaan” yang ingin mereka usik ketenangannya. Serupa dengan yang dilakukan para demonstran di Bangkok. Suvarnabhumi tidak hanya berfungsi pragmatis sebagai fasilitas transportasi udara namun telah menjelma menjadi landmark baru sebagai “simbol kekuasaan” rezim Somchai, tempat mereka memperjuangkan perubahan.

Tags: Uncategorized

Rethinking Urban Image

December 1st, 2008 · 11 Comments

It was just last night I have a chat with a friend. We’re talking about my master thesis. He specifically asks about my “intentions” on that study. Well, all I can say is, it is all about URBAN IMAGE. As far as I know from all literature written in urban design, or city planning, there are 2 poles in talking about this issue. First is Lynchian supporter. As we know that Kevin Lynch sometimes in 60s had an idea to ask American people about memorable features they first notice in their city. Lynch experiment has deliver 5 most memorable features people first notice, first is PATH, or channel of movement, second is NODE or junction, third is LANDMARK or city monument, forth is DISTRICT, and the last is EDGE, could be river, or city wall. Those five elements have grown very popular amongst urban planner and they started to consider Lynch finding as an urban theory.

The other pole is Rapoportian. Amos Rapoport in the 70s as he also points out about Lynch finding, try to add some other memorable features in city, which have contribution in building urban image. He mentioned about human activities in the city. Rapoport believes that the life of city streets has giving the city “spirit”. He further in late 80s specifically mentioned about Indian cities, which he stated, as I quote:

“India is a fine example of the effects of culture on the streets use. There, the streets provide a setting for what seems to be a bewildering variety of activities and correspondingly diverse sounds, smells and sights. A confusing mixture of animals, people, bicycles, rickshaws, trucks and buses moves continuously. Activities are intermingled at an extraordinarily fine grain and in close juxtaposition. The streets are full of a great variety of people in all sorts of costumes, not only walking and riding but standing, sitting, squatting and lying down; sleeping, cooking, eating, getting their hair cut or getting shaved; doing laundry, fixing bicycles or tires, manufacturing things, sewing, playing, chanting, arguing, bargaining and - even praying.”

According to Rapoport, urban public life is very important to a city, as also another urbanist Jane Jacobs (1961) amazingly states:

“Think of a city and what comes to mind? It is the streets. If a city’s streets look interesting the city looks interesting; if they look dull, the city looks dull.”

At least, those two poles, as far as I concern for at least from my undergrad to my postgrad about Urban Image, it is always Lynchian or Rapoportian. Well, I will not attack those two poles, but, just now, by accident, I saw a foreign movie. A Turkish movie, called A Touch of Spice, at Metro TV. I will not talking about the movie story, but there is something about this movie, which struck me the most.

It is about how a person thinks about a city, specifically Istanbul or Constantinople (during Roman Empire). Well, as we know Istanbul is rich of architectural legacy, which grown into city Landmarks, namely Hagia Sophia, Blue Mosque, Topkapi Palace, and those monumental minarets scattered all over the city air. Those landmarks, labyrinth paths, and other physical features of historic Istanbul are become meaningless in this movie without MEMORY ABOUT A PERSON.

The memory, which taken place in an old shop house about his childhood friend and a grandpa, has haunted him desperately. After decades, which finally this man successfully comeback to that place has liven up all his memory about this city. It is only about a small Spice shop house, but for this man, it is all about his life. The memory never run away from him, but at the other side, it is strongly influence his life path forever. And more than that, he remembers Istanbul by his memories and moments that he had with his loved one, even it only happened during his short childhood before he had to be deported to Greece.

So, now I have another opinion about what sort of features that build an urban image. This is more than about those physical features. Those tangible features can be nothing, without our own feelings or emotional touch that we have about a place. It is all about meaning, a sense of place. www.wikipedia.com, printed out, sense of place refers to:

“Cultural geographers, anthropologists, sociologists and urban planners study why certain places hold special meaning to particular people or peoples. Places said to have a strong "sense of place" have a strong identity and character that is deeply felt by local inhabitants and by many visitors. Sense of place is a social phenomenon that exists independently of any one individual's perceptions or experiences, yet is dependent on human engagement for its existence. Such a feeling may be derived from the natural environment, but is more often made up of a mix of natural and cultural features in the landscape, and generally includes the people who occupy the place. The sense of place may be strongly enhanced by the place being written about by poets and novelists, or portrayed in art or music, and more recently, through modes of codification in ordinances aimed at protecting, preserving and enhancing places felt to be of value (such as the "World Heritage Site" designations used around the world, the English "Area of Outstanding Natural Beauty" controls and the like). “

Well, if you find this movie, please watch it and share your opinion with me…

Tags: Uncategorized