Arif B Sholihah

Multifungsi Ruang Jalan dan Kehidupan Publik Kota

August 1st, 2008 · 21 Comments

“Think of a city and what comes to mind? It is the streets. If a city’s street looks interesting the city looks interesting; if they look dull the city looks dull” (Jacobs, 1961)


Begitulah Jane Jacobs di bukunya yang terkenal The Death and Life of Great American Cities mengingatkan kita. Apabila kita berfikir tentang sebuah kota, maka yang akan terbersit pertama kali di benak kita adalah jalan-jalannya. Apabila jalan-jalan di kota tersebut menarik, atraktif, dan semarak, maka menariklah kota tersebut. Tetapi apabila jalanan itu sepi, mati, dan bahkan menakutkan, maka kota tersebut akan menjadi membosankan dan tidak menarik untuk dikunjungi. Kehidupan dan fungsi jalan menjadi salah satu penentu bagi kemenarikan suatu kota.

Multifungsi ruang jalan

Menurut Ellis (1986), jalan dapat dibedakan secara spasial menjadi dua bagian, street space (ruang jalan) dan street wall (dinding/batas jalan). Ruang jalan dapat dimaknai sebagai ruang-ruang dalam kota yang dibatasi oleh dinding bangunan-bangunan dalam kota, tembok-tembok bangunan kota, atau juga bentang alam.

Pada dasarnya, jalan termasuk salah satu diantara beberapa elemen fisik yang paling awal wujud di kota. Bahkan di banyak tempat, jalan adalah embrio bagi lahirnya sebuah kota. Jalan menjadi jaringan aktif yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain dan akhirnya menjadi jalur pergerakan (channel of movement and city network) bagi manusia maupun alat transportasi/kendaraan.

Dalam perkembangannya, fungsi jalan ternyata telah melebar dan kini kita mengenali ruang jalan dengan fungsi yang beragam. Pada suatu ketika jalan akan berfungsi secara komersial. Di Indonesia, bahkan di seantero Asia kita biasa mengenali jalan sebagai area publik untuk melakukan transaksi berjualan. Bahkan di banyak tempat, seperti di Chinatown, Singapura, koridor kaki lima dan ruang jalan di depat ruko yang berjajar itu menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang datang ke kawasan konservasi ini. Disitulah publik melakukan transaksi jual beli di ruang-ruang jalan.

Foto 1: Suasana di City Walk, Chinatown Singapura, ruang jalan menjadi area pedestrian yang semarak dengan fungsinya secara komersial terutama cinderamata
Dok. Arif B Sholihah

Foto 2: Jalan Malioboro Yogyakarta dan Ruang Arcade semi publiknya menjadi area komersial, sosial, dan kultural
Dok. Arif B Sholihah

Pada waktu yang lain, jalan adalah arena untuk berinteraksi sosial. Pada saat ruang jalan itu menarik untuk dikunjungi, maka publik akan berbondong-bondong menggunakannya untuk dapat saling melihat dan dilihat (see and to be seen). Pada fungsi ini, ruang jalan juga sekaligus berfungsi sebagai ruang untuk berkomunikasi (communication space). Ketersediaan street furniture dan public amenities sangat penting dalam kaitannya dengan fungsi ini.

Lebih jauh lagi, pada suatu ketika ruang jalan juga berfungsi sebagai arena representasi budaya lokal. Kita sering menyaksikan kegiatan-kegiatan yang berbasis budaya di jalan-jalan kota. Ritual komunal dan parade-parade budaya biasanya akan ditampilkan di jalan-jalan kota. Koridor panjang ruang kota tersebut, pada saat itu akan berubah menjadi panggung kota yang semarak dan sepenuhnya menjadi milik publik. Sementara di waktu yang lain ruang jalan juga akan menjadi setting bagi iring-iringan kematian begitu juga parade perkawinan, dua suasana berbeda yang muncul jadi satu ruang kota, yaitu ruang jalan.

Bahkan bagi sebagian masyarakat, ruang jalan adalah arena untuk mewujudkan kreatifitas mereka. Di ruang jalanlah musisi jalanan beraksi demikian juga protes sosial dan demonstrasi dilakukan. Untuk fungsi yang terakhir ini, ruang jalan menjadi salah satu arena menyampaikan aspirasi politik di dalam kota. Para seniman bahkan menjadikan ruang jalan bagi “galeri” mereka. Sejak beberapa tahun terakhir ini kita juga menyaksikan dinding pembatas jalan sebagai area berekspresi mereka melalui seni mural kota. Tembok pembatas jalan berubah menjadi karya seni dan bahkan menjadi area untuk menunjukkan “sejarah dan cerita” masyarakat kota tersebut (Hayden, 1995).

Foto 3: Ruang jalan sebagai media aspirasi dan sejarah komunal kota
Dok. Arif B Sholihah

Ruang Jalan-jalan di Indonesia

Dari sekian banyak fungsi dan makna jalan bagi publik, ternyata dewasa ini tidak selamanya sebuah ruang jalan mampu mewujudkan multifungsi diatas. Jalan-jalan di kota-kota besar dunia, termasuk di Indonesia lebih banyak didominasi oleh fungsinya sebagai jalur pergerakan. Kendaraan bermotor mendominasi hampir setiap jengkal ruang jalan bahkan hingga ke jalur pejalan kaki. Sangat jarang kita menemukan jalur pejalan kaki yang nyaman, aman, dan aksesibel bagi semua. Belum lagi kenyamanan udara dan audial bagi pejalan kaki yang sangat sulit kita temukan.

Selain itu, fungsi ruang jalan sebagai arena komersial juga cukup dominan. Hanya saja tidak adanya penataan yang memadai kadang membuat fungsinya sebagai ruang publik cukup terganggu. Pedagang kaki lima mengklaim ruang publik pejalan kaki sebagai tempat berdagang tanpa menyisakan ruang yang cukup nyaman bagi para pengguna jalan. Belum lagi jika kita bicara mengenai penyandang cacat tentu akan lebih pelik lagi.

Reinterpretasi Fungsi Jalan

Mengembalikan kehidupan publik ke ruang jalan dan menjadikan jalan itu memiliki fungsi yang beragam, kini menjadi bahasan utama para perancang kota dunia. Kota-kota seperti Copenhagen dengan Stroget Street-nya, Barcelona dengan kawasan La Rambla-nya, Singapura, dengan Chinatown-nya, dan Curitiba, Brazil dengan ruang publik yang aksesibel-nya telah berupaya dengan sungguh-sunggguh untuk mengembalikan kehidupan publik ke jalan-jalan kota.

Ruang jalan yang tadinya telah didominasi oleh kendaraan bermotor dan mati oleh kegiatan publik, kini dikelola kembali agar terjadi keseimbangan fungsi ruang jalan. Aktivitas yang semarak pada ruang jalan yang berkualitas secara estetika dan desain dipadu dengan sense of place yang kuat menjadi harapan terciptanya jalan yang hidup dan berfungsi publik secara optimal. Bahkan paradigma menjadikan ruang jalan sebagai jalur pedestrian penuh banyak digunakan untuk lebih membuat ruang-ruang jalan itu lebih menarik.

Di Indonesia, paradigma mengembalikan multifungsi ruang jalan ini tampaknya juga sudah mulai dilirik oleh para perancang kawasan. Meski masih terbatas pada kawasan-kawasan “semi publik” semacam Centro Havana di BSD atau rencana Malioboro Walk di Yogya, namun ini membawa angin segar untuk lebih menyemarakkan ruang jalan. Sehingga ruang jalan tidak hanya merupakan jalur pergerakan saja, akan tetapi kehidupan publik seperti menjadikan jalan sebagai area interaksi sosial, ruang berkomunikasi, ruang komersial, ruang berkreasi seni, ruang prosesi ritual, ruang ekspresi budaya lokal, dan bahkan fungsi jalan sebagai arena untuk berekspresi secara politik pun dapat diakomodir pada ruang-ruang jalan kita.

Sementara itu, revitalisasi ruang jalan yang telah memiliki aktivitas publik yang mengakar dengan meningkatkan kualitas ruang jalan secara estetika arsitektural semestinya menjadi metode para pihak berwenang kota. Kawasan pusaka kota salah satunya, memerlukan upaya penghidupan kembali dengan menyuntikkan dan memicu akar kehidupan publik di ruang jalan. Sehingga tidak perlu menikmati ruang publik yang semarak sampai ke Eropa, tetapi cukup ke Pecinan Semarang, Jalan Malioboro Yogya, atau mungkin ruang jalan di kota kita sendiri dapat kita semarakkan dengan beragam aktivitas publik dan kreatifitasnya.

Tags: Arsitektur dan Desain

21 responses so far ↓

Leave a Comment

*