Arif B Sholihah

Entries from July 2008

Masjid Lebuh Aceh, Jejak Masjid Nusantara di Georgetown

July 30th, 2008 · 18 Comments

Kompas Minggu, 9 Januari 2005

"PADA waktu itu orang-orang Aceh banyak sekali berdagang di Pulau Pinang, kalau bagi orang yang baharu datang seperti Teuku Nyak Putih, tidaklah akan merasa sunyi....

Setelah beberapa hari Teuku Nyak Putih berada di Pulau Pinang, ia telah merasa bahawa dia bukannya sampai di satu tempat yang baharu, melainkan di salah sebuah kota besar di negeri sendiri". (Abdullah Hussain, 1984)

PENANG, orang Malaysia mengejanya dengan ejaan keinggris-inggrisan, Peneng, atau dengan sebutan lengkapnya Pulau Pinang, terletak di pantai barat Semenanjung Malaysia. Kini tempat itu dapat ditempuh dengan jalan darat dari arah ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, melalui jembatan sepanjang 13 kilometer, atau dapat juga ditempuh dari Medan dengan kapal feri. Penang kini lebih dikenal sebagai kota industri dan mata pencaharian mayoritas penduduknya berhubungan dengan sektor ini. Investasi di Penang yang sangat pesat menjadikannya sebagai salah satu kota terbesar di Malaysia.

Pantai dan alamnya yang indah menjadikan Penang juga dikenal sebagai salah satu tujuan wisata utama di Malaysia. Pernah dikenal dengan julukan Pearl of the Orient, Penang bukanlah pulau asing bagi masyarakat serantau (Nusantara dan sekitarnya). Pusat kota Pulau Penang terletak di pesisir pantai yang dikenal dengan nama Georgetown. Tempat ini hingga kini masih menyisakan eksotisme kota lama, dengan arsitektur dari berbagai bangsa dan etnis.

SALAH satu yang menarik adalah enklave Lebuh Aceh di jantung Georgetown, berhadapan dengan enklave Kuil Khoo Kong Si. Lebuh Aceh ini memiliki luas 66.000 kaki persegi dengan masjid sebagai penandanya. Sementara permukiman dan rumah kedai mengelilinginya sehingga membentuk perimeter block dengan masjid dan ruang terbuka di tengah-tengahnya.

Sejarah masjid dan enklavenya ini berawal dari tahun 1792. Ditandai dengan kedatangan pendirinya, yaitu Tengku Syed Hussain Al-Idid, seorang bangsawan dari Aceh keturunan Arab dari Hadramaut, Yaman, yang kemudian menetap di Penang. Tengku Syed Hussain Al-Idid ini kemudian menjadi pedagang Aceh yang kaya dan sukses ketika Penang baru dibuka oleh Kapten Sir Francis Light pada akhir abad ke-18.

Dengan kekayaan yang dimilikinya, Tengku Syed Hussain Al-Idid dengan bantuan keluarga dan pengikutnya membuka kawasan di Lebuh Aceh. Dia mendirikan masjid, menara, rumah kediaman, deretan rumah kedai, Madrasah Al Quran, dan kantor perdagangan. Bagi masyarakat Aceh khususnya dan Nusantara umumnya, Penang bukanlah sebuah tempat asing. Snouck Hurgronje, ahli ilmu agama Islam yang menuliskan catatan tentang Aceh pada tahun 1892 pun menyatakan bahwa "bagi masyarakat Aceh, Penang adalah gerbang menuju dunia dalam banyak hal, terutama juga untuk memasarkan produk mereka langsung menuju Eropa".

Kejayaan masyarakat Aceh di Penang tidak terbatas hanya pada masa Tengku Syed Al-Idid, tetapi selepas kematian beliau pada pertengahan abad ke-19, perkampungan ini terus berkembang maju dan telah mencapai kegemilangannya hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Teuku Nyak Putih, ayahanda seniman legendaris melayu P Ramlee pun adalah satu di antara banyak orang Aceh yang sukses di Penang.

Keharuman nama para pedagang Aceh di masa silam ini terpancar pula dari keindahan arsitektur masjid ini. Arsitektur Masjid Lebuh Aceh ini cukup unik karena merupakan gabungan dari gaya Moor, China, dan Klasik. Menara persegi delapan yang berada di sisi utara tepat di pintu masuknya berbentuk seakan pagoda China. Sementara gaya Moor terlihat dari lengkung dan juga plester yang menghiasi dinding dan bagian mihrab. Tiang Klasik berukuran besar tampak menghiasi beranda masjid ini yang lebih mirip seperti pendopo masjid-masjid di Sumatera dan Jawa. Sebagaimana masjid-masjid kuno di Nusantara lainnya, di belakang masjid ini berderet makam orang-orang yang berkaitan erat dengan masjid ini, termasuk Tengku Syed Al-Idid sendiri beserta kerabatnya.

Berbeda dengan masjid yang seluruh dindingnya menggunakan batu bata, kebanyakan rumah tinggal di Lebuh Aceh justru mencerminkan rumah tradisional. Bahan dinding didominasi kayu dengan pintu berdaun dan ukiran kerawang. Terdapat juga beberapa rumah bercirikan rumah tradisional kota yang menggunakan bahan batu bata di tingkat bawah dan bahan kayu di tingkat atas.

Selain masjid dan rumah tinggal, rumah-rumah kedai yang mengelilingi kawasan ini memiliki keindahan arsitektur yang menarik. Terdapat tiga gaya arsitektur di sini, yaitu arsitektur tradisional, klasik, dan straits eclectic.

Rumah kedai yang berarsitektur tradisional atau permanen awal ini berderet antara Nomor 77-81, Acheen Street. Jenis rumah kedai ini tidak mempunyai lorong kaki lima di tingkat bawah, sedangkan di tingkat atasnya terdapat jendela kayu berdaun.

Jenis rumah kedai Klasik terdapat di alamat Nomor 83-87, Acheen Street. Pengaruh arsitektur klasik tampak pada fasad bangunan seperti tiang bergaya Corinthia di tingkat bawah, pilaster, jendela lengkung, dan ukiran klasik pada dinding. Lorong kaki lima terdapat pada rumah kedai jenis ini.

Sementara arsitektur straits eclectic, yaitu arsitektur campuran berbagai bentuk yang terdapat pada masyarakat sekitar Selat Malaka seperti di Penang, Melaka, atau Singapura tampak pada rumah yang beralamat di Nomor 47-55, Acheen Street. Rumah-rumah kedai ini memiliki lorong kaki lima, tiang pendukung, dinding penghalang (party walls), serta sumur udara di dalam interiornya, sebagaimana rumah- rumah kedai pada permukiman masyarakat selat lainnya.

KOMPLEKS Masjid Lebuh Aceh dan bangunan di sekelilingnya merupakan tanah wakaf yang tidak dapat diperjualbelikan. Secara turun-temurun kawasan ini ditinggali tidak hanya oleh masyarakat Aceh di Penang, tetapi juga dari Arab, Yaman, dan Melayu sendiri. Apalagi letak Lebuh Aceh ini yang berdekatan dengan permukiman dari berbagai bangsa dan etnis. Georgetown memang dikenal sebagai kawasan majemuk yang berasal dari etnis dan agama berbeda. Semua itu hingga kini masih terpancar dari arsitektur bangunan di dalamnya.

Masjid Lebuh Aceh ini semakin istimewa karena tidak hanya berfungsi sebagai basis masyarakat Islam di Penang, namun juga menjadi "Jeddah kedua" bagi masyarakat serantau yang akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Kompleks ini senantiasa dipadati jemaah sepanjang musim haji, dan bahkan hampir sepanjang tahun. Perjalanan dengan kapal laut saat itu yang memakan waktu hampir setengah tahun menjadikan kompleks masjid ini didiami pengantar jemaah haji dan selama menunggu jemaah pulang dari Tanah Suci. Begitu seterusnya hingga musim haji berikutnya tiba. Berbagai jenis perdagangan dari mulai rempah ratus, bazar makanan, percetakan buku-buku agama Islam, warung makan, hingga jasa pengurusan haji mengelilingi kesemarakan masjid ini.

TRADISI mengunjungi Masjid Lebuh Aceh sebelum pergi haji kini semakin lama semakin pudar. Keramaian suasana semakin berkurang. Kini Masjid Lebuh Aceh hanya digunakan dua kali shalat Jumat dalam sebulan bergantian dengan Masjid Kapitan Keling yang juga berada di salah satu blok kota lama Georgetown ini.

Keberadaannya yang semakin renta menggerakkan sejumlah pelestari warisan budaya untuk memugar masjid ini. Pada akhir dekade 1990-an masjid yang sudah berumur lebih dari 200 tahun ini dipugar dan dikonservasi sebagaimana bentuk aslinya oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan Universiti Sains Malaysia dengan dana dari pihak pemerintah bandaraya Penang. Tidak tanggung-tanggung Gubernur Aceh pada saat itu, Profesor Syamsudin Mahmud, pun turut berkunjung pada saat bangunan dipugar.

Meski demikian, kompleks enklave ini kini masih terus menjadi sengketa. Meski statusnya sebagai tanah wakaf yang tidak dapat diperjualbelikan, letaknya yang strategis di pusat kota dan tingginya nilai lahan di Georgetown ini menjadikan kompleks bangunan di sekeliling Masjid Lebuh Aceh diincar banyak pihak. Isu-isu manajemen tanah wakaf, konservasi, dan kepentingan kapital menjadi mengemuka. Permasalahan ini cukup merisaukan banyak pihak, mengingat kompleks masjid ini merupakan warisan arsitektur sekaligus saksi sejarah bangsa kita di negeri tetangga, Malaysia.

Arif B Sholihah Dosen Jurusan Arsitektur, Universitas Islam Indonesia, Graduate Student University of Technology Malaysia

Tags: Arsitektur dan Desain

Dari Agra dengan Cinta

July 30th, 2008 · 16 Comments

Kompas Minggu, 9 Oktober 2005

Arif B Sholihah

You allowed your kingly nation to vanish, Shah Jahan, but your wish was to make a tear drop of love in the cheek of eternity (R Tagore).

Kalimat indah Rabindranath Tagore yang dikutip buku panduan perjalanan di pangkuan terus saja terngiang di telinga. Begitulah sang pujangga menggambarkan Tajmahal yang akan segera kami ziarahi. Ia bagaikan tetesan air mata cinta pada pipi keabadian.

Agra masih empat jam lagi. Langit sudah mulai senja. Hamparan ladang mustard dengan bunga-bunga kuning cerianya terhampar di kanan-kiri jalan. Sesekali tampak perempuan desa berpakaian sari warna-warni membawa kendi air di kepala.

Menyusuri negeri Hindustan melalui jalan darat memang tidak selalu mudah. Begitu keluar dari jalan raya arah Jaipur, Rajasthan, perjalanan semakin tidak nyaman. Jalanan yang berlubang dan sempit menjadi tantangan tersendiri. Seperti saat ini.

Hari semakin gelap saja. Jendela bus mulai kami tutup. Sesegera setelah gelap datang, cuaca semakin berangin. Sopir mulai menyalakan hio dan lagu-lagu rohani dari tape recorder. Pooja kepada mobile shrine yang terpajang di kaca depan bus kembali dilakukan. Kami pun ikut terbawa suasana ritual mereka yang syahdu. Ooh Hindustani....

Pukul 21.00 waktu setempat kami tiba di Agra. Sebuah kota di gurun Uttar Pradesh yang masih tampak sangat hidup. Di kanan-kiri jalan baliho-baliho iklan terpampang tanpa penataan. Wajah-wajah akrab artis Bollywood seolah menghilangkan penat perjalanan.

Agra bukanlah kota besar, namun sejak beratus-ratus tahun lalu Agra telah terpilih menjadi ibu kota bagi Dinasti Sikandra, jauh sebelum Dinasti Mughal akhirnya berkuasa dari kota di tepi Sungai Yamuna. Oh Agra, kami sudah tiba.

Janji untuk melihat Tajmahal di langit malam Agra pupus begitu kami tiba di kamar hotel. Meski hotel melati, tetapi penat membuat kami bahkan melupakan makan malam. Harapan bermimpi tentang kecantikan Mumtaz Mahal dan kegagahan Shah Jahan menjadi pilihan. Seawal pukul 04.00 kami dibangunkan suara-suara orang berjalan dari koridor hotel. Kami pun ingin segera bergegas. Selamat pagi Agra.

Pukul 06.00. Kabut masih putih ketika kami menaiki puncak hotel. Sungguh di luar dugaan, Tajmahal berdiri dekat dengan kami. Sangat dekat. Meski dinding marmer putihnya masih dipeluk kabut, tetapi keindahannya membuat kami menahan napas. Cuaca dingin tidak lagi terasa begitu bangunan dengan proporsi sempurna itu tampak di hadapan. Ternyata hanya dengan berjalan 200 meter saja gerbang Tajmahal telah di depan mata.

Pengunjung dari seluruh dunia berduyun-duyun. Wajah-wajah memancarkan rasa keingintahuan yang besar pada Taj, sang legenda cinta. Kewujudannya adalah obsesi bagi Shah Jahan yang hidup pada era tahun 1592-1666 Masehi, meski dengan mengorbankan kerajaannya yang besar dan gemilang. Shah Jahan dikenal sebagai raja yang royal membangun bangunan megah, meski dengan menghabiskan harta negara. Dan, Tajmahal-lah puncaknya. Ia bukanlah istana kebesaran, tetapi pusara. Tempat sang kekasih Mumtaz dibaringkan melalui keabadian media arsitektur.

Taj sang arsitek

Seorang lelaki Rajasthani menjadi pemandu kami. Kumis tebalnya yang tampak sangar hilang begitu saja seketika ia menggambarkan keindahan Tajmahal. Selama 14 tahun Tajmahal dibangun dengan penuh energi dari sang raja.

Nama arsitek tidak pernah ada disebut dalam sejarah, para perajin berusaha menerjemahkan keinginan sang raja, sehingga dapat dikatakan dia sendirilah arsitek bangunan ini. Pada tahun 1644 Masehi bangunan Tajmahal sempurna berdiri. Terbuat dari marmer putih dari Gurun Rajasthan, berbagai ornamen ukiran meliputi seluruh dindingnya dengan bebatuan mulia di sekelilingnya.

Tajmahal dibangun oleh kebesaran cinta, kata pemandu kami. Itulah sebabnya ia selalu memancarkan keindahan yang berbeda-beda setiap saatnya. Pagi hari ia akan tampak kekuningan oleh matahari pagi dan semakin siang ia semakin putih. Marmer putihnya memancar pada cahaya yang sempurna. Dan malam hari, terutama purnama, bayang-bayang hitam Tajmahal dari Sungai Yamuna akan tampak seolah ia adalah bangunan kembar Tajmahal putih dan Tajmahal hitam di permukaan Yamuna.

Melangkah di atas lantai Tajmahal, ornamen mawar di seluruh dindingnya mulai tampak bersinar. Batu-batu mulia yang terselip di antaranya menjadikan dinding Tajmahal penuh warna.

Kutipan ayat-ayat Al Quran terhampar di atas gerbang ruang utama. Pusara Mumtaz mulai tampak dalam kegelapan. Kedudukannya yang simetris dengan bangunan sungguh terdesain sempurna. Di sisinya muncul pusara lain, yang tampak seperti elemen tambahan saja. Ia adalah pusara sang raja sendiri, Shah Jahan. Tidak salah lagi, hanya untuk sang ratulah bangunan indah ini dibangun.

Mumtaz Mahal (1592-1631) atau sebelumnya dikenal sebagai Arjamand Banu adalah istri kesayangan Shah Jahan. Nama Mumtaz Mahal yang berarti The Chosen One of the Palace diberikan kepadanya pada hari pernikahan mereka. Nama ini juga kemudian menjadi abadi dipusaranya sendiri, Tajmahal.

Mumtaz adalah keturunan Persia, menikah dan kemudian dikaruniai 14 orang anak, pada usia perkawinan mereka yang ke-19. Kelahiran anak yang ke-14 inilah yang membawanya ke alam keabadian. Mumtaz meninggal pada usia yang sangat muda, 39 tahun.

Berperahu

Ziarah kali ini terasa begitu bermakna ketika pemandu mengajak kami melalui jalan yang selalu digunakan Shah Jahan semasa tuanya untuk mengunjungi Tajmahal.

Upacara kebesaran melalui gerbang utama tidak selalu digunakan sang raja ketika ia sangat rindu kepada kekasihnya. Dia lebih memilih mendekati Tajmahal dengan berperahu dari istananya di Agra Fort ke Taj melalui Sungai Yamuna.

Apalagi setelah ia dipenjarakan oleh putranya sendiri sehingga tidak lagi dapat mengunjungi Tajmahal. Dia memilih berdiam sehingga meninggalnya (1666 M) di Muthumman Burj, sebuah ruang di puncak Agra Fort yang menghadap langsung ke Tajmahal.

Jika pada masa lalu Shah Jahan berperahu dari Agra Fort ke Tajmahal, kita pun dapat melakukannya. Paling tidak untuk ikut merasakan bagaimana sang pencinta ini bergerak mendekati Tajmahal. Melalui dermaga yang hanya dapat diakses keluarga kerajaan, Shah Jahan memasuki kompleks Tajmahal untuk masuk langsung menuju makam sang permaisuri yang terletak di tengah bangunan utama Taj.

Kini, dengan ongkos 20 rupee saja kita akan diajak menyeberangi sungai ini dan menikmati Tajmahal dari seberang sungai. Jangan lupa, mintalah kepada si pengemudi perahu untuk menyanyikan lagu memuji keindahan Sungai Yamuna dan bangunan Tajmahal ini. Sungguh tidak terlupakan.

Arif B Sholihah Dosen Arsitektur Universitas Islam Indonesia, Peserta 3rd International Field School on Asian Heritage

Tags: perjalanan

Menembus Sang Naga di Damnern Saduak

July 30th, 2008 · No Comments

Di tengah puncak musim panas, sebelum tahun baru Songkran, di awal bulan April, matahari Bangkok menyala-nyala. Panas matahari siang hari ditambah kelembaban tinggi seolah tak tertahankan. Obyek-obyek wisata berkelas dunia di kota ini pun tampaknya terlalu terik untuk dinikmati. Karenanya kami memilih ke selatan, semoga daerah pedesaan di selatan akan terasa lebih menyejukkan.

Hari masih pagi waktu kami meninggalkan Krungthep, nama lain City of Angel, Bangkok. Mobil Van yang membawa kami akhirnya datang juga. Ternyata budaya ngaret di Asia berlaku juga disini. Beberapa teman seperjalanan sudah mulai mengeluh, tapi bagi orang Indonesia seperti kita, 15-30 menit, okelah.

Perjalanan dimulai. Sang Pemandu memberi salam dengan kekhasan orang Thai Sawadi Krup…lalu suara Tata Young sang diva terdengar dari radio mobil. Tujuan utama kami adalah Damnern Saduak di Provinsi Ratchaburi. Sebuah pasar terapung, (Talaat Naam dalam bahasa Thai) yang masuk dalam daftar sepuluh destinasi wisata utama Thailand menurut salah satu buku panduan wisata internasional. Mungkin bagi kita masyarakat Indonesia, pasar terapung bukanlah obyek wisata yang baru. Di berbagai daerah di Indonesia pasar terapung menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sayangnya masih sangat sedikit yang muncul sebagai destinasi wisata, apalagi yang dikunjungi oleh ribuan turis manca seperti Damnern Saduak.

Menikmati pemandangan selama perjalanan, seperti berada di negeri sendiri. Persawahan terhampar luas, sesekali tampak gubug petani dengan atap menjulang muncul dari balik persawahan. Yang sedikit berbeda adalah lotus liar dengan bunga-bunga merah jambunya yang tampak sangat menawan. Tak pelak pilihan perjalanan hari ini rasanya sangatlah tepat.

Infrastruktur jalan di pedalaman Thailand memang sedikit lebih baik dari negeri kita, karenanya jarak antara Bangkok-Damnern Saduak sejauh 104 km dapat ditempuh tepat dalam waktu satu setengah jam, nyaris tanpa ada hambatan. Sangat kontras dengan Bangkok dengan kemacetannya, yang lebih mirip dengan Jakarta.

Setelah keluar dari jalan raya, mulai tampak suasana pedesaan asli khas Thailand. Lengkap dengan rumah panggung, sungai, dan persawahan diselingi pohon buah-buahan lokal yang tengah lebat-lebatnya berbuah. Komoditas agro ini memang menjadi andalan Thailand, begitu juga di Damnern Saduak. Perdagangan sungai yang membelah daerah ini didominasi oleh komoditas agro, baik buah-buahan, sayuran, hingga makanan tradisional khas yang berasal dari produk pertanian lokal. Ah, rasanya tidak sabar untuk segera sampai.

Menyusuri sang Naga

Pukul 08.00 pagi waktu setempat, akhirnya kami sampai di Damnern Saduak. Sungguh di luar dugaan, Damnern Saduak sangat hiruk pikuk penuh manusia. Sepertinya kami kesiangan sampai di obyek ini. Yang lebih mengherankan lagi, turis yang datang didominasi kaum Caucasian, bukannya bulan April belum bulan vacation di negeri mereka sana? Mmmh.

Suara hiruk pikuk khas pasar tradisional menyergap kami. Para penjaja topi dan souvenir sudah mulai mengerubungi. Tapi kami masih merasa asing mengenali area ini, baru setelah berjalan agak jauh, kami baru tersadar, inilah pasar tersohor itu, Damnern Saduak, yang terletak diatas sebuah kanal sungai atau Klong. Dalam legenda masyarakat timur, sungai kadang dianalogikan sebagai sang Naga. Profilnya yang berkelak kelok dan berkah atas air dan kesuburan tepat disejajarkan dengan binatang mitos Naga. Bukankah peradaban-peradaban besar Asia selalu muncul dari tepi sungai, tepi sang Naga.

Sebenarnya sungai di Damnern Saduak tidaklah sebesar Chao Phraya yang membelah Bangkok. Namun sungai kecil ini telah menjadi nadi kehidupan bagi masyarakat setempat. Meski gelombang pariwisata massal menyerbu sungai ini, tampak kehidupan asli masyarakat masih lestari. Mereka sangat menikmati transaksi jual beli dengan barter maupun dengan mata uang. Komoditas sehari-hari yang kini bercampur dengan komoditas kerajinan dan produk lokal untuk konsumsi turis saling melengkapi.

Menyusuri sungai ini dengan sampan, sensasi visual, pendengaran, dan hangatnya perasaan berpadu satu. Sesekali ketika sampan berpapasan, kami saling tersenyum, bahkan menyapa. Para pedagang pun tak henti-hentinya menawarkan dagangannya, meski dengan bahasa Inggris terbata-bata atau dengan sapaan bahasa mereka sendiri. Sensasi seperti ini lah yang tidak akan kita temui di pasar-pasar modern. Sensasi menjadi “manusia” yang sudah mulai hilang dalam kehidupan kekinian. Tak mengherankan jika para turis mau berlama-lama di tempat ini.

Yang menarik diperhatikan adalah, sebagaimana pasar-pasar tradisional di Indonesia, para pedagang di Damnern Saduak mayoritas adalah perempuan. Tangan-tangan trampil dan kekhasan penampilan mereka menambah menariknya obyek wisata ini. Sesekali kita akan melihat perempuan bercaping khas perempuan Vietnam, konon mereka pendatang yang setiap hari harus bersampan cukup jauh untuk sampai di kawasan ini. Belum lagi kemben sutera yang membalut kulit kuning langsat perempuan Thai menambah warna-warni pasar ini.

Kuliner di Damnern Saduak

Melakukan perjalanan, tak lengkap rasanya tanpa mencicipi makanan khasnya. Di Damnern Saduak, para pedagang sangat terampil menyiapkan jajan pasar yang rasanya mirip dengan jajan pasar yang melimpah di Pasar Kranggan Yogyakarta, ada Apem manis, kue Cara, kue Talam, kue Wafel, serta tentu saja yang berbeda adalah Sup Thom Yum Goong yang tersohor itu.

Buah-buahan lokal Thai juga tidak kalah menariknya. Kita tentu mengenal Jambu Bangkok, Durian Montong, Leci, Mangga, dan buah-buah unggul dari Thailand lainnya. Semua tersedia disini. Dan jangan khawatir, kantong kita tidak akan dibuat kering karenanya. Kemanisan dan kesegaran rasanya mampu melupakan teriknya matahari, yang ternyata…sama panasnya dengan Bangkok.

Tags: perjalanan