Arif B Sholihah

Public Transportation System in Indonesia and Japan

April 16th, 2010 · No Comments

Nowadays, people are moving from one place to another in a higher speed than before. Transportation system has developed in each country based on its demand and capability of stakeholders that provide. In most countries, including developing country, public transportation system has been set up in order to comply with public demands. However, there are similarities and differences on the quality of public transportation in each country, in this case are Indonesia as an example of developing country and Japan as a developed country.

To begin with, let us start with the similarities of public transportation system in both countries. In Indonesia and Japan, public transportation system is set up by the government, which involved by private sector and experts. Government and private sector provide mode of public transport, including bus, train, taxi, airplane, and boat. Furthermore, in Indonesian small cities or rural areas some traditional modes of transport are operated by individuals, such as trishaw (Becak) or animal drawn cart (Andong). Meanwhile, those kinds of modes of transport in cities of Japan have vanished decades ago.

Despite the similarities, public transportation system differs greatly in several aspects. First of all, the degree of safety between public transport in Japan and Indonesia is in contrast. In Indonesia, public transport is widely known for its low safety. There are numbers of fatal accident, which cause people got injured or taken their lives and huge material casualties. The accidents are not only involves in on-road public transport (bus, train), but also on air and water (airplane and boats) mode of transport. In contrast to in Indonesia, public transport in Japan is famous for its minimum number of accident. Expert says public transport in Japan is much safer than private transport, such as driving private car. Furthermore, public transport in Japan mostly has controlled via electronic devices rather than manual, which considered as risky since operated by human, as it still activated in Indonesia.

Second major difference is in the reliability. Public transport in Japan has high quality of trustworthiness. As far as it concern, Japanese are famous for their punctuality. People prefer using public transport for the timekeeping and consistency of the service. This is in contrast to in Indonesia. The reliability of public transport is still questionable. For example, train schedule is bad, not to say worst. Moreover, airplane is sometimes too. Delayed flight is in a high number, especially those that operated by the private companies.

The last but not least is the quality of services. Public transport in Indonesia is out of dated in many ways. The most visible to look at is on-road train. Most of train in Indonesia are imported second hand from Japan. While Japan is competing to raise their electronic train as one of the highest speed train in the world, train in Indonesia still in a modest quality. Not only in terms of high speed, but also in terms of the quality of service for the passenger. This condition makes Indonesian prefer using private car rather than public train or buses. The impact is bad. Traffic congestion is more often occurred in Indonesian big cities, including Jakarta, Bandung, and Surabaya.

It is obvious that the quality of public transportation system is varies from country to country. The experience from Japan and Indonesia shows that although there are similarities of public transport services in both countries, the differences are more dominant. It is not so hard to find that Japan as a developed country has a safer, more reliable, and better services on their public transportation system compared to Indonesia as a developing country.

→ No CommentsTags: Uncategorized

Menggagas Jogja sebagai Kota berbasis Industri Kreatif (Creative City)(1)

June 15th, 2009 · No Comments

…mari kita kembangkan ekonomi kreatif dengan memadukan ideas, art, and technology. Kita bisa, kita tidak boleh kalah dengan negara dan bangsa lain untuk membangun dan mengembangkan ekonomi kreatif ini. ”

Pidato Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan Pekan Produk Budaya Indonesia 2007.

Original Idea

Berawal dari awal tahun 1980an ide kota kreatif muncul sebagai wacana dan opportunity kota-kota di dunia untuk menyelesaikan masalah perkotaan terutama berkaitan dengan pengangguran dan peningkatan kualitas lingkungan kita secara kreatif yang melibatkan juga kalangan artist, namun kemudian berkembang secara lebih lanjut, tidak hanya para seniman yang berkaitan dengan industri kreatif namun juga semua orang yang berkenaan dengan inovasi baru dalam berbagai bidangm termasuk para ilmuan, bisnisman, dan kalangan lain untuk mengembangkan ekonomi berbasis kreativitas.

Kota-kota di banyak belahan dunia telah banyak yang mendeklarasikan dirinya sebagai kota kreatif. Kota Manchester, Bristol, Plymouth, Norwich, hingga London di Inggris, Yokohama di Jepang, Cincinnati dan Creative Tampa Bay di US, Brisbane Creative City di Australia, serta Auckland di New Zealand.

Apa itu Industri Kreatif atau sering juga dikenal sebagai Ekonomi Kreatif?

Industri kreatif adalah industri yang berasal dari kreatifitas, skill, dan bakat individual yang memiliki potensi ekonomis dan mampu menyerap tenaga kerja dari satu generasi ke generasi dan menggunakan secara optimal intelektual properti (DCMS, 2001)

Jenis-jenis Industri Kreatif

Advertising
Architecture
Arts and antique markets (see also Restoration)
Crafts
Design (see also communication design)
Designer Fashion
Film, video and photography
Software, computer games and electronic publishing
Music and the visual and performing arts
Publishing
Television and radio

→ No CommentsTags: Uncategorized

Ruang Publik Kota = Ruang Kita

March 31st, 2009 · 2 Comments

We shape our public spaces, and;
Thereafter, our public spaces shape us
(Winston Churchill)

Beberapa waktu yang lalu, saya lewat di Jalan Magelang, dekat gedung TVRI. Hari menjelang hujan, semua orang bergegas memacu kendaraannya, terutama para pengendara sepeda motor. Dalam suasana yang hiruk pikuk sore itu, tiba-tiba sebuah mobil mewah yang melaju di depan saya melemparkan plastik kresek hitam yang penuh sampah keluar jendela. Wah-wah. Saya lalu berfikir, apa jadinya kalo semua orang melakukan hal yang sama. Jangan-jangan ruang kota kita akan berubah menjadi tempat sampah terbesar yang pernah ada.

Ruang Publik Kota, Milik Siapa?

Barangkali kejadian diatas juga pernah dialami pembaca, atau malah kita sendiri salah satu pelakunya. Padahal kalau kita mau bertanya lebih jauh, sebenarnya ruang publik kota itu milik siapa? Ruang publik kota pada hakekatnya adalah ruang yang dapat dimasuki dan digunakan oleh siapa saja tanpa ada syarat untuk memasukinya. Dalam teori-teori urban desain ruang publik kota antara lain meliputi taman kota, alun-alun, lapangan, trotoar, ruang komersial, ruang terbuka kota, ruang terbuka hijau, jalur jalan, jalur hijau, tepian sungai dan ruang-ruang lainnya yang dapat dikatakan menjadi wilayah publik (public domain).

Sebagai wilayah milik publik, ruang publik kota akan digunakan oleh seluruh warga kota secara “bebas” dan “adil” tanpa membedakan satu warga dengan warga yang lainnya. Sehingga pada dasarnya kita semua berhak menggunakannya tanpa memerlukan ijin khusus dari pihak lain. Namun apa jadinya jika kita hanya menggunakan “hak” kita untuk menggunakannya dan melalaikan kewajiban kita untuk menjaganya. Sikap “njagakke” orang/pihak lain masih kental terlihat. Padahal bukankah di ruang-ruang publiklah akan tercermin wajah kita, kalo ruang publiknya bersih maka bersihlah warganya, begitu juga sebaliknya. Kotor dan tidak terawatnya ruang publik kota akan mencerminkan diri warganya.

Ruang Publik Kota di Yogyakarta

Kondisi ruang publik di kota Yogyakarta masih banyak yang tidak terawat dan kotor keadaannya. Malah tidak jarang muncul aroma tidak sedap, terutama dari riol kota yang penuh dengan sampah. Alun-alun utara yang gundul dan penuh debu di musim kemarau akan tampak becek dan bau di musim hujan. Begitu juga jalan-jalannya, meskipun pihak Dinas Tata Kota telah berupaya membersihkan dan mengelolanya, namun apa daya jika peran serta masyarakat masih minimal. Tampaknya kampanye Yogya Bersih yang dicanangkan Pemerintah Kota perlu terus digaungkan sehingga peran serta masyarakat akan lebih baik.

Upaya penegakan hukum atas pelanggaran membuang sampah di ruang publik juga belum optimal, ditambah lagi dengan minimnya kesadaran masyarakat menjadikan upaya menjaga ruang publik kota sehingga lebih bersih dan terjaga menjadi semakin belum dapat diwujudkan. Tentu saja ini menjadi perhatian kita semua, apalagi jika jargon Yogya Berhati Nyaman memang benar ingin diwujudkan. Semoga.

→ 2 CommentsTags: Uncategorized

Architecture for All(1)

January 31st, 2009 · No Comments

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling
karena telah datang seorang buta kepadanya*
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa)
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup**
maka kamu melayaninya, padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman) dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran)
sedang ia takut kepada (Allah)
maka kamu mengabaikannya
sekali-kali jangan (demikian)! sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan
maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya
di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan
di tangan para penulis (malaikat) yang mulia dan berbakti”

(Qs. Abasa 1-16)

Sepenggal surat Abasa diatas turun setelah datang kepada Rasul SAW seorang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dia datang kepada beliau untuk meminta ajaran-ajaran tentang Islam, namun Rasul SAW bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah ayat-ayat ini sebagai teguran kepada Rasulullah SAW.

Kisah diatas memberikan kita gambaran, bahwa seorang Rasul pun pernah melakukan kealpaan. Hingga Allah SWT sendiri memberinya teguran melalui ayat-ayat suci Al Quran. Kealpaan tentang memperlakukan semua orang dengan equal, adil, tanpa diskriminasi. Contoh kealpaan diatas sangat relevan dengan dunia arsitektur kita hingga dewasa ini, terutama dalam mewujudkan arsitektur yang dapat digunakan oleh semua, termasuk orang buta, pemakai kursi roda, orang tua yang telah lemah mobilitasnya, dan orang-orang lain yang memiliki kemampuan “yang berbeda” dalam mengakses dan menggunakan arsitektur.

(to be continued)

→ No CommentsTags: Arsitektur dan Desain

Mengatasi Pemanasan Global dari Rumah Kita

January 7th, 2009 · No Comments

Sebagaimana kita ketahui, pemanasan global dapat diartikan sebagai proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Dalam dua puluh tahun terakhir, suhu bumi meningkat drastis dengan rata-rata penyimpangan lebih dari 0,6 ‘ celcius.

Penyebab Pemanasan Global

Penyebab utama yang paling sering disebut adalah adanya “efek rumah kaca”. Sebagian panas matahari tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Penyebab lainnya antara lain adalah adanya efek umpan balik cahaya dan variasi penyinaran matahari ke bumi.

Bangunan, Energi dan Emisi Karbon

“Buildings use 40% of the total energy in the US and European Union”

Di Indonesia, pemakaian energi dalam sebuah rumah tangga terus mengalami peningkatan. Sektor industri dan perumahan adalah pemakai energi terbesar. Rumah tangga menggunakan energi untuk menyalakan berbagai peralatan elektronik, seperti kulkas, penyejuk ruangan, dan lampu penerangan yang melepaskan lebih dari ratusan ton CO2 ke atmosfer setiap tahun. Listrik adalah energi yang bersih, namun dalam menghasilkannya bahan bakar fosil masih mendominasi.

Pengguna listrik di Indonesia:

Perumahan 40%, industri 45%, Fas. Komersial 11%, Fas. Sosial 2%, Lampu jalan 1%, bangunan pemerintah 1%. (NG Indonesia, 2008). Bahan bakar fosil, gas, ataupun minyak tanah yang kita gunakan untuk memasak serta sampah yang kita hasilkan sehari-hari juga ikut menyumbang CO2.

CO2 yang dihasilkan alat-alat rumah tangga

Dengan mengalikan jumlah KwH (kilo watt hour) yang kita gunakan dengan 0,6, kita akan tahu jumlah emisi yang dikeluarkan. (faktor konversi rata-rata pembangkit listrik di Indonesia)

Alat rumah tangga Ton CO2 yang dihasilkan per tahun : 1) Printer (inkjet atau all in one) (8); 2) Desktop PC (161);3) Laptop (48); 4) Kipas Angin (42); 5)Mesin Cuci (36); 6) Setrika (121); 7)TV (221); 8)Pemutar CD (20); 9) Pengeras Suara (100); 10)AC (904); 11) Pemanas air (201)12) Kulkas (241), dan Sampah Setiap tahun tiap orang Indonesia membuang 4,5 kg sampah dan menghasilkan 64,8 kg CO2/tahun

Apa yang bisa kita lakukan dari rumah kita

1. Gunakan energi alternatif (tenaga surya, air,biomassa, angin, uranium)

Biaya invenstasi panel surya masih relatif mahal (300 juta/rumah), namun ke depannya biaya tersebut akan semakin berkurang namun manfaatnya semakin besar. Ketergantungan pada energi fosil akan terus berkurang

2. Konsep Zero Energy Building (ZEB)

Yaitu konsep bangunan yang tanpa energi. “Tanpa energi” disini dapat diartikan sebagai:

- energi yang dihasilkan dalam bangunan setara dengan jumlah energi yang digunakan oleh bangunan tersebut (tidak perlu pasokan energi dari luar)
- bangunan 100% menggunakan energi yang dapat diperbaharui, baik dihasilkan di dalam maupun di luar bangunan

ZEB dapat diukur dari penggunaan Kwh listrik PLN dalam bangunan, semakin kecil KwH yang digunakan semakin dianggap sebuah bangunan menerapkan konsep ZEB. Penggunaan energi alternatif sebagai pengganti listrik PLN diharapkan bahkan menghasilkan energi tambahan.

Beberapa arahan desain arsitektur pada konsep ZEB:

1. Jumlah bukaan semakin banyak (untuk memasok cahaya matahari dan penghawaan sehingga menurunkan lampu penerangan di siang hari dan pemakaian AC) (Passive Cooling Design)
2. Orientasi matahari sebagai pertimbangan perancangan
3. Pemilihan Penggunaan bahan bangunan yang tidak memerlukan banyak energi pada proses produksinya Hemat BBM dan pada saat terpasang

Kaca yang tidak merefleksikan panas, bahan yang tidak menyebabkan panas, dst

4. Pemilihan alat-alat elektronik

Pemilihan alat-alat elektronik yang ber watt rendah, memiliki label hemat energi, kulkas tanpa CFC. Semakin sedikit energi yang dipakai, semakin hemat dan semakin sedikit emisi yang dihasilkan

5. Reduce, Reuse, Recycle

Setiap tahun tiap orang Indonesia membuang 4,5 kg sampah dan menghasilkan 64,8 kg CO2/tahun. Sampah yang dihasilkan dapat diolah kembali, misalnya menjadi pupuk, sampah plastik didaur ulang, penggunaan barang2 bekas yang masih dapat digunakan, dst

6. Hemat Air

Rata-rata pemakaian air di kota besar di Indonesia 250 liter/orang/hari. Pompa air untuk mengangkat air menghasilkan 352 ton CO2/tahun.

(pernah disampaikan pada talkshow Griya di Radio Unisi, 5 Desember 2008)

→ No CommentsTags: Arsitektur dan Desain

Masjid Tua di Belakang Adisucipto: Sebuah Catatan tentang “Sense of Place”

December 21st, 2008 · 1 Comment

Kalo Relphs di tahun 1972 merilis bukunya yang berjudul Place and Placelessness,…yang kurang lebih isinya tentang ruang-ruang arsitektur dan ruang kota yang mudah “diingat” atau “dicitrakan” dan ruang-ruang yang “mudah dilupakan” maka beberapa paragraf dibawah ini adalah untuk mengingat kembali apakah kata-kata Relphs hampir 40 tahun yang lalu itu masih relevan…selamat membaca…:)

We live, act and orient ourselves in a world that is richly and profoundly differentiated into places, yet at the same time we seem to have a meagre understanding of the constitution of places and the ways in which we experience them (Relphs, 1972).

Meski sudah 2 kali saya mengunjungi tempat ini, sebuah tempat yang entah mengapa saya selalu lupa menyebutnya…hanya nama yang selalu terngiang adalah Masjid Tua di belakang Bandara Adisucipto. Mungkin “bandara” sebagai modern “place” telah lebih “mudah diingat” dibandingkan nama obyek bangunan masjid itu sendiri. Paling tidak untuk saya (untuk ikut menyepakati pembenaran kata-kata Juliet’s Shakespeare… “What’s in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet”…heheh

Teman yang mengajak saya datang ke tempat ini menyebut masjid ini adalah salah satu dari sekian Masjid Pathok Negoro di Yogyakarta. Yaitu sebuah sebutan untuk beberapa masjid tua yang sengaja dibangun oleh pihak pemerintah Mataram Yogya di abad 19 untuk “memagari” negara, atau paling tidak ibukota, Ngayogyakarta Hadiningrat. Benar atau tidaknya masjid ini adalah salah satu masjid Pathok Negoro, saya sendiri belum tahu, tapi secara arsitektural bangunan ini memang memiliki tipologi sebagaimana masjid-masjid kraton di jawa lainnya, yaitu masjid piramidal bersusun tiga.

Menyusuri jalan menuju masjid ini lebih saat ingat, yaitu dari jalan solo kita musti belok ke selatan naik ke jembatan layang, lalu belok kiri di kawasan blok O, jalan pedesaan yang cukup kontras dengan ringroad yang cenderung menjadi “highway”. Selokan kecil dengan air bening di kiri jalan sulit dilupakan, sebelum kita tiba-tiba disergap rimbunan tebu gula yang akan mengantar kita ke lorong menuju Masjid Tua ini.

Cahaya matahari belum sempurna pagi itu, tapi justru pendar sinarnya yang mengenai beberapa bagian dinding bangunan dengan pohon beringin tua yang menjaganya menjadi tampak sempurna. memasuki halaman masjid, seperti masuk ke pintu waktu, dikala beberapa ratus tahun lalu tempat ini makmur oleh penyebaran islam di kawasan sekitarnya.

Architecturally speaking, desain masjid dan tatanan lansekapnya nampak begitu harmonis. bangunan yang simetris, elemen kolom kayu dan permainan warna hijau kuning membawa citra masjid jawa yang sangat kental. Meski dengan proporsi bangunan yang tidak sebesar masjid di angkatannya, namun justru proporsi bangunan ini nampak sempurna dengan konteks lingkungannya. Masih sebagaimana masjid jawa yang lainnya, di belakang bangunan ini terdapat makam yang dihuni oleh pendiri dan orang-orang di jamannya yang berkait langsung atau tidak dengan tempat ini.

Suasana hening, sepi, dan syahdu lebih dominan di tempat ini. Saya bahkan tidak tahu apakah masjid tua ini digunakan sebagai Friday Mosque atau tidak. Meski secara luasan, saya kira sangat memenuhi syarat. Satu hal, dulu masjid ini pasti pernah makmur. Ramai, dan digunakan oleh masyarakat sekelilingnya. Namun sejak pemukiman di sekitarnya digusur pada saat perluasan pembangunan bandara di tahun 1970an masjid ini menjadi sendiri. Ditinggalkan komunitasnya.

(to be continued)

→ 1 CommentTags: Uncategorized

Arsitektur, Ruang Kota dan Simbol Kekuasaan

December 1st, 2008 · No Comments

sambil nunggu monev dikti, nulis dulu ah…

Beberapa waktu terakhir ini dunia dibuat ternganga oleh dua peristiwa besar di dua kota besar Asia. Pertama adalah Bangkok, Krung Thep yang berarti kota malaikat dalam bahasa Thai ini telah menyaksikan serentetan demostrasi massa yang telah berlangsung berbulan-bulan, tak berhenti satu hari pun. Malah seminggu lalu, highway menuju bandara internasional Suvarnabhumi yang baru beroperasi dua tahun lalu diblokir massa. Tujuan utamanya satu, agar PM Somchai yang sedang berada di Peru tidak dapat kembali ke negrinya. Sebuah ekspresi yang memukau publik dunia. Bagaimana tidak, bandara sebagai “gateway” utama menuju sebuah negara di era sekarang ini telah menjadi “place” yang tidak dapat tergantikan, sehingga seorang PM sekalipun menjadi kesulitan untuk kembali ke rumahnya sendiri.

Berbeda dengan Bangkok, Mumbai, ibukota film bollywood India diguncang terror. Suasana mencekam tidak hanya dirasakan di tempat kejadian, namun di seluruh dunia, ketika media-media internasional secara ekslusif memberitakannya. Adalah Hotel Tajmahal dan Hotel Oberoi/Trident tempat eksekusi utama para korban teroris yang menewaskan lebih dari 190 orang tersebut menjadi venue yang sangat “mengerikan”. Sangat kontras dengan penampilan arsitekturnya.

Hotel Taj selesai dibangun tahun 1903 dan segera menjadi hotel terbaik di India. Bahkan menjadi “simbol kosmopolitan” negeri tersebut. Meski bernama serupa monumen Taj Mahal yang terkenal itu, hotel ini didesain tidak dengan gaya Taj Mahal yang asli, namun dengan dekorasi arsitektur bergaya campuran antara Spanyol (abad ke-8 hingga ke-16), Italia (abad ke-14 hingga ke-16) dan Oriental. Sejak era sebelum kemerdekaan hingga kini, hotel ini sibuk melayani tamu maharaja, hingga kepala negara (Kompas, 29/11/08, hal.10).

Keindahan arsitektur adalah satu hal, namun bagaimana jika darah bersimbah di sepanjang lorong dan ruangnya selama aksi terror berlangsung. Sebuah paradox yang sempurna. Satu hal yang jelas, para aktor terror tersebut, siapapun mereka, telah menempatkan Hotel Taj sebagai “simbol kekuasaan” yang ingin mereka usik ketenangannya. Serupa dengan yang dilakukan para demonstran di Bangkok. Suvarnabhumi tidak hanya berfungsi pragmatis sebagai fasilitas transportasi udara namun telah menjelma menjadi landmark baru sebagai “simbol kekuasaan” rezim Somchai, tempat mereka memperjuangkan perubahan.

→ No CommentsTags: Uncategorized

Rethinking Urban Image

December 1st, 2008 · 1 Comment

It was just last night I have a chat with a friend. We’re talking about my master thesis. He specifically asks about my “intentions” on that study. Well, all I can say is, it is all about URBAN IMAGE. As far as I know from all literature written in urban design, or city planning, there are 2 poles in talking about this issue. First is Lynchian supporter. As we know that Kevin Lynch sometimes in 60s had an idea to ask American people about memorable features they first notice in their city. Lynch experiment has deliver 5 most memorable features people first notice, first is PATH, or channel of movement, second is NODE or junction, third is LANDMARK or city monument, forth is DISTRICT, and the last is EDGE, could be river, or city wall. Those five elements have grown very popular amongst urban planner and they started to consider Lynch finding as an urban theory.

The other pole is Rapoportian. Amos Rapoport in the 70s as he also points out about Lynch finding, try to add some other memorable features in city, which have contribution in building urban image. He mentioned about human activities in the city. Rapoport believes that the life of city streets has giving the city “spirit”. He further in late 80s specifically mentioned about Indian cities, which he stated, as I quote:

“India is a fine example of the effects of culture on the streets use. There, the streets provide a setting for what seems to be a bewildering variety of activities and correspondingly diverse sounds, smells and sights. A confusing mixture of animals, people, bicycles, rickshaws, trucks and buses moves continuously. Activities are intermingled at an extraordinarily fine grain and in close juxtaposition. The streets are full of a great variety of people in all sorts of costumes, not only walking and riding but standing, sitting, squatting and lying down; sleeping, cooking, eating, getting their hair cut or getting shaved; doing laundry, fixing bicycles or tires, manufacturing things, sewing, playing, chanting, arguing, bargaining and - even praying.”

According to Rapoport, urban public life is very important to a city, as also another urbanist Jane Jacobs (1961) amazingly states:

“Think of a city and what comes to mind? It is the streets. If a city’s streets look interesting the city looks interesting; if they look dull, the city looks dull.”

At least, those two poles, as far as I concern for at least from my undergrad to my postgrad about Urban Image, it is always Lynchian or Rapoportian. Well, I will not attack those two poles, but, just now, by accident, I saw a foreign movie. A Turkish movie, called A Touch of Spice, at Metro TV. I will not talking about the movie story, but there is something about this movie, which struck me the most.

It is about how a person thinks about a city, specifically Istanbul or Constantinople (during Roman Empire). Well, as we know Istanbul is rich of architectural legacy, which grown into city Landmarks, namely Hagia Sophia, Blue Mosque, Topkapi Palace, and those monumental minarets scattered all over the city air. Those landmarks, labyrinth paths, and other physical features of historic Istanbul are become meaningless in this movie without MEMORY ABOUT A PERSON.

The memory, which taken place in an old shop house about his childhood friend and a grandpa, has haunted him desperately. After decades, which finally this man successfully comeback to that place has liven up all his memory about this city. It is only about a small Spice shop house, but for this man, it is all about his life. The memory never run away from him, but at the other side, it is strongly influence his life path forever. And more than that, he remembers Istanbul by his memories and moments that he had with his loved one, even it only happened during his short childhood before he had to be deported to Greece.

So, now I have another opinion about what sort of features that build an urban image. This is more than about those physical features. Those tangible features can be nothing, without our own feelings or emotional touch that we have about a place. It is all about meaning, a sense of place. www.wikipedia.com, printed out, sense of place refers to:

“Cultural geographers, anthropologists, sociologists and urban planners study why certain places hold special meaning to particular people or peoples. Places said to have a strong “sense of place” have a strong identity and character that is deeply felt by local inhabitants and by many visitors. Sense of place is a social phenomenon that exists independently of any one individual’s perceptions or experiences, yet is dependent on human engagement for its existence. Such a feeling may be derived from the natural environment, but is more often made up of a mix of natural and cultural features in the landscape, and generally includes the people who occupy the place. The sense of place may be strongly enhanced by the place being written about by poets and novelists, or portrayed in art or music, and more recently, through modes of codification in ordinances aimed at protecting, preserving and enhancing places felt to be of value (such as the “World Heritage Site” designations used around the world, the English “Area of Outstanding Natural Beauty” controls and the like). “

Well, if you find this movie, please watch it and share your opinion with me…

→ 1 CommentTags: Uncategorized

Multifungsi Ruang Jalan dan Kehidupan Publik Kota

August 1st, 2008 · 3 Comments

“Think of a city and what comes to mind? It is the streets. If a city’s street looks interesting the city looks interesting; if they look dull the city looks dull” (Jacobs, 1961)


Begitulah Jane Jacobs di bukunya yang terkenal The Death and Life of Great American Cities mengingatkan kita. Apabila kita berfikir tentang sebuah kota, maka yang akan terbersit pertama kali di benak kita adalah jalan-jalannya. Apabila jalan-jalan di kota tersebut menarik, atraktif, dan semarak, maka menariklah kota tersebut. Tetapi apabila jalanan itu sepi, mati, dan bahkan menakutkan, maka kota tersebut akan menjadi membosankan dan tidak menarik untuk dikunjungi. Kehidupan dan fungsi jalan menjadi salah satu penentu bagi kemenarikan suatu kota.

Multifungsi ruang jalan

Menurut Ellis (1986), jalan dapat dibedakan secara spasial menjadi dua bagian, street space (ruang jalan) dan street wall (dinding/batas jalan). Ruang jalan dapat dimaknai sebagai ruang-ruang dalam kota yang dibatasi oleh dinding bangunan-bangunan dalam kota, tembok-tembok bangunan kota, atau juga bentang alam.

Pada dasarnya, jalan termasuk salah satu diantara beberapa elemen fisik yang paling awal wujud di kota. Bahkan di banyak tempat, jalan adalah embrio bagi lahirnya sebuah kota. Jalan menjadi jaringan aktif yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain dan akhirnya menjadi jalur pergerakan (channel of movement and city network) bagi manusia maupun alat transportasi/kendaraan.

Dalam perkembangannya, fungsi jalan ternyata telah melebar dan kini kita mengenali ruang jalan dengan fungsi yang beragam. Pada suatu ketika jalan akan berfungsi secara komersial. Di Indonesia, bahkan di seantero Asia kita biasa mengenali jalan sebagai area publik untuk melakukan transaksi berjualan. Bahkan di banyak tempat, seperti di Chinatown, Singapura, koridor kaki lima dan ruang jalan di depat ruko yang berjajar itu menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang datang ke kawasan konservasi ini. Disitulah publik melakukan transaksi jual beli di ruang-ruang jalan.

Foto 1: Suasana di City Walk, Chinatown Singapura, ruang jalan menjadi area pedestrian yang semarak dengan fungsinya secara komersial terutama cinderamata
Dok. Arif B Sholihah

Foto 2: Jalan Malioboro Yogyakarta dan Ruang Arcade semi publiknya menjadi area komersial, sosial, dan kultural
Dok. Arif B Sholihah

Pada waktu yang lain, jalan adalah arena untuk berinteraksi sosial. Pada saat ruang jalan itu menarik untuk dikunjungi, maka publik akan berbondong-bondong menggunakannya untuk dapat saling melihat dan dilihat (see and to be seen). Pada fungsi ini, ruang jalan juga sekaligus berfungsi sebagai ruang untuk berkomunikasi (communication space). Ketersediaan street furniture dan public amenities sangat penting dalam kaitannya dengan fungsi ini.

Lebih jauh lagi, pada suatu ketika ruang jalan juga berfungsi sebagai arena representasi budaya lokal. Kita sering menyaksikan kegiatan-kegiatan yang berbasis budaya di jalan-jalan kota. Ritual komunal dan parade-parade budaya biasanya akan ditampilkan di jalan-jalan kota. Koridor panjang ruang kota tersebut, pada saat itu akan berubah menjadi panggung kota yang semarak dan sepenuhnya menjadi milik publik. Sementara di waktu yang lain ruang jalan juga akan menjadi setting bagi iring-iringan kematian begitu juga parade perkawinan, dua suasana berbeda yang muncul jadi satu ruang kota, yaitu ruang jalan.

Bahkan bagi sebagian masyarakat, ruang jalan adalah arena untuk mewujudkan kreatifitas mereka. Di ruang jalanlah musisi jalanan beraksi demikian juga protes sosial dan demonstrasi dilakukan. Untuk fungsi yang terakhir ini, ruang jalan menjadi salah satu arena menyampaikan aspirasi politik di dalam kota. Para seniman bahkan menjadikan ruang jalan bagi “galeri” mereka. Sejak beberapa tahun terakhir ini kita juga menyaksikan dinding pembatas jalan sebagai area berekspresi mereka melalui seni mural kota. Tembok pembatas jalan berubah menjadi karya seni dan bahkan menjadi area untuk menunjukkan “sejarah dan cerita” masyarakat kota tersebut (Hayden, 1995).

Foto 3: Ruang jalan sebagai media aspirasi dan sejarah komunal kota
Dok. Arif B Sholihah

Ruang Jalan-jalan di Indonesia

Dari sekian banyak fungsi dan makna jalan bagi publik, ternyata dewasa ini tidak selamanya sebuah ruang jalan mampu mewujudkan multifungsi diatas. Jalan-jalan di kota-kota besar dunia, termasuk di Indonesia lebih banyak didominasi oleh fungsinya sebagai jalur pergerakan. Kendaraan bermotor mendominasi hampir setiap jengkal ruang jalan bahkan hingga ke jalur pejalan kaki. Sangat jarang kita menemukan jalur pejalan kaki yang nyaman, aman, dan aksesibel bagi semua. Belum lagi kenyamanan udara dan audial bagi pejalan kaki yang sangat sulit kita temukan.

Selain itu, fungsi ruang jalan sebagai arena komersial juga cukup dominan. Hanya saja tidak adanya penataan yang memadai kadang membuat fungsinya sebagai ruang publik cukup terganggu. Pedagang kaki lima mengklaim ruang publik pejalan kaki sebagai tempat berdagang tanpa menyisakan ruang yang cukup nyaman bagi para pengguna jalan. Belum lagi jika kita bicara mengenai penyandang cacat tentu akan lebih pelik lagi.

Reinterpretasi Fungsi Jalan

Mengembalikan kehidupan publik ke ruang jalan dan menjadikan jalan itu memiliki fungsi yang beragam, kini menjadi bahasan utama para perancang kota dunia. Kota-kota seperti Copenhagen dengan Stroget Street-nya, Barcelona dengan kawasan La Rambla-nya, Singapura, dengan Chinatown-nya, dan Curitiba, Brazil dengan ruang publik yang aksesibel-nya telah berupaya dengan sungguh-sunggguh untuk mengembalikan kehidupan publik ke jalan-jalan kota.

Ruang jalan yang tadinya telah didominasi oleh kendaraan bermotor dan mati oleh kegiatan publik, kini dikelola kembali agar terjadi keseimbangan fungsi ruang jalan. Aktivitas yang semarak pada ruang jalan yang berkualitas secara estetika dan desain dipadu dengan sense of place yang kuat menjadi harapan terciptanya jalan yang hidup dan berfungsi publik secara optimal. Bahkan paradigma menjadikan ruang jalan sebagai jalur pedestrian penuh banyak digunakan untuk lebih membuat ruang-ruang jalan itu lebih menarik.

Di Indonesia, paradigma mengembalikan multifungsi ruang jalan ini tampaknya juga sudah mulai dilirik oleh para perancang kawasan. Meski masih terbatas pada kawasan-kawasan “semi publik” semacam Centro Havana di BSD atau rencana Malioboro Walk di Yogya, namun ini membawa angin segar untuk lebih menyemarakkan ruang jalan. Sehingga ruang jalan tidak hanya merupakan jalur pergerakan saja, akan tetapi kehidupan publik seperti menjadikan jalan sebagai area interaksi sosial, ruang berkomunikasi, ruang komersial, ruang berkreasi seni, ruang prosesi ritual, ruang ekspresi budaya lokal, dan bahkan fungsi jalan sebagai arena untuk berekspresi secara politik pun dapat diakomodir pada ruang-ruang jalan kita.

Sementara itu, revitalisasi ruang jalan yang telah memiliki aktivitas publik yang mengakar dengan meningkatkan kualitas ruang jalan secara estetika arsitektural semestinya menjadi metode para pihak berwenang kota. Kawasan pusaka kota salah satunya, memerlukan upaya penghidupan kembali dengan menyuntikkan dan memicu akar kehidupan publik di ruang jalan. Sehingga tidak perlu menikmati ruang publik yang semarak sampai ke Eropa, tetapi cukup ke Pecinan Semarang, Jalan Malioboro Yogya, atau mungkin ruang jalan di kota kita sendiri dapat kita semarakkan dengan beragam aktivitas publik dan kreatifitasnya.

→ 3 CommentsTags: Arsitektur dan Desain

Masjid Lebuh Aceh, Jejak Masjid Nusantara di Georgetown

July 30th, 2008 · No Comments

Kompas Minggu, 9 Januari 2005

“PADA waktu itu orang-orang Aceh banyak sekali berdagang di Pulau Pinang, kalau bagi orang yang baharu datang seperti Teuku Nyak Putih, tidaklah akan merasa sunyi….

Setelah beberapa hari Teuku Nyak Putih berada di Pulau Pinang, ia telah merasa bahawa dia bukannya sampai di satu tempat yang baharu, melainkan di salah sebuah kota besar di negeri sendiri”. (Abdullah Hussain, 1984)

PENANG, orang Malaysia mengejanya dengan ejaan keinggris-inggrisan, Peneng, atau dengan sebutan lengkapnya Pulau Pinang, terletak di pantai barat Semenanjung Malaysia. Kini tempat itu dapat ditempuh dengan jalan darat dari arah ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, melalui jembatan sepanjang 13 kilometer, atau dapat juga ditempuh dari Medan dengan kapal feri. Penang kini lebih dikenal sebagai kota industri dan mata pencaharian mayoritas penduduknya berhubungan dengan sektor ini. Investasi di Penang yang sangat pesat menjadikannya sebagai salah satu kota terbesar di Malaysia.

Pantai dan alamnya yang indah menjadikan Penang juga dikenal sebagai salah satu tujuan wisata utama di Malaysia. Pernah dikenal dengan julukan Pearl of the Orient, Penang bukanlah pulau asing bagi masyarakat serantau (Nusantara dan sekitarnya). Pusat kota Pulau Penang terletak di pesisir pantai yang dikenal dengan nama Georgetown. Tempat ini hingga kini masih menyisakan eksotisme kota lama, dengan arsitektur dari berbagai bangsa dan etnis.

SALAH satu yang menarik adalah enklave Lebuh Aceh di jantung Georgetown, berhadapan dengan enklave Kuil Khoo Kong Si. Lebuh Aceh ini memiliki luas 66.000 kaki persegi dengan masjid sebagai penandanya. Sementara permukiman dan rumah kedai mengelilinginya sehingga membentuk perimeter block dengan masjid dan ruang terbuka di tengah-tengahnya.

Sejarah masjid dan enklavenya ini berawal dari tahun 1792. Ditandai dengan kedatangan pendirinya, yaitu Tengku Syed Hussain Al-Idid, seorang bangsawan dari Aceh keturunan Arab dari Hadramaut, Yaman, yang kemudian menetap di Penang. Tengku Syed Hussain Al-Idid ini kemudian menjadi pedagang Aceh yang kaya dan sukses ketika Penang baru dibuka oleh Kapten Sir Francis Light pada akhir abad ke-18.

Dengan kekayaan yang dimilikinya, Tengku Syed Hussain Al-Idid dengan bantuan keluarga dan pengikutnya membuka kawasan di Lebuh Aceh. Dia mendirikan masjid, menara, rumah kediaman, deretan rumah kedai, Madrasah Al Quran, dan kantor perdagangan. Bagi masyarakat Aceh khususnya dan Nusantara umumnya, Penang bukanlah sebuah tempat asing. Snouck Hurgronje, ahli ilmu agama Islam yang menuliskan catatan tentang Aceh pada tahun 1892 pun menyatakan bahwa “bagi masyarakat Aceh, Penang adalah gerbang menuju dunia dalam banyak hal, terutama juga untuk memasarkan produk mereka langsung menuju Eropa”.

Kejayaan masyarakat Aceh di Penang tidak terbatas hanya pada masa Tengku Syed Al-Idid, tetapi selepas kematian beliau pada pertengahan abad ke-19, perkampungan ini terus berkembang maju dan telah mencapai kegemilangannya hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Teuku Nyak Putih, ayahanda seniman legendaris melayu P Ramlee pun adalah satu di antara banyak orang Aceh yang sukses di Penang.

Keharuman nama para pedagang Aceh di masa silam ini terpancar pula dari keindahan arsitektur masjid ini. Arsitektur Masjid Lebuh Aceh ini cukup unik karena merupakan gabungan dari gaya Moor, China, dan Klasik. Menara persegi delapan yang berada di sisi utara tepat di pintu masuknya berbentuk seakan pagoda China. Sementara gaya Moor terlihat dari lengkung dan juga plester yang menghiasi dinding dan bagian mihrab. Tiang Klasik berukuran besar tampak menghiasi beranda masjid ini yang lebih mirip seperti pendopo masjid-masjid di Sumatera dan Jawa. Sebagaimana masjid-masjid kuno di Nusantara lainnya, di belakang masjid ini berderet makam orang-orang yang berkaitan erat dengan masjid ini, termasuk Tengku Syed Al-Idid sendiri beserta kerabatnya.

Berbeda dengan masjid yang seluruh dindingnya menggunakan batu bata, kebanyakan rumah tinggal di Lebuh Aceh justru mencerminkan rumah tradisional. Bahan dinding didominasi kayu dengan pintu berdaun dan ukiran kerawang. Terdapat juga beberapa rumah bercirikan rumah tradisional kota yang menggunakan bahan batu bata di tingkat bawah dan bahan kayu di tingkat atas.

Selain masjid dan rumah tinggal, rumah-rumah kedai yang mengelilingi kawasan ini memiliki keindahan arsitektur yang menarik. Terdapat tiga gaya arsitektur di sini, yaitu arsitektur tradisional, klasik, dan straits eclectic.

Rumah kedai yang berarsitektur tradisional atau permanen awal ini berderet antara Nomor 77-81, Acheen Street. Jenis rumah kedai ini tidak mempunyai lorong kaki lima di tingkat bawah, sedangkan di tingkat atasnya terdapat jendela kayu berdaun.

Jenis rumah kedai Klasik terdapat di alamat Nomor 83-87, Acheen Street. Pengaruh arsitektur klasik tampak pada fasad bangunan seperti tiang bergaya Corinthia di tingkat bawah, pilaster, jendela lengkung, dan ukiran klasik pada dinding. Lorong kaki lima terdapat pada rumah kedai jenis ini.

Sementara arsitektur straits eclectic, yaitu arsitektur campuran berbagai bentuk yang terdapat pada masyarakat sekitar Selat Malaka seperti di Penang, Melaka, atau Singapura tampak pada rumah yang beralamat di Nomor 47-55, Acheen Street. Rumah-rumah kedai ini memiliki lorong kaki lima, tiang pendukung, dinding penghalang (party walls), serta sumur udara di dalam interiornya, sebagaimana rumah- rumah kedai pada permukiman masyarakat selat lainnya.

KOMPLEKS Masjid Lebuh Aceh dan bangunan di sekelilingnya merupakan tanah wakaf yang tidak dapat diperjualbelikan. Secara turun-temurun kawasan ini ditinggali tidak hanya oleh masyarakat Aceh di Penang, tetapi juga dari Arab, Yaman, dan Melayu sendiri. Apalagi letak Lebuh Aceh ini yang berdekatan dengan permukiman dari berbagai bangsa dan etnis. Georgetown memang dikenal sebagai kawasan majemuk yang berasal dari etnis dan agama berbeda. Semua itu hingga kini masih terpancar dari arsitektur bangunan di dalamnya.

Masjid Lebuh Aceh ini semakin istimewa karena tidak hanya berfungsi sebagai basis masyarakat Islam di Penang, namun juga menjadi “Jeddah kedua” bagi masyarakat serantau yang akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Kompleks ini senantiasa dipadati jemaah sepanjang musim haji, dan bahkan hampir sepanjang tahun. Perjalanan dengan kapal laut saat itu yang memakan waktu hampir setengah tahun menjadikan kompleks masjid ini didiami pengantar jemaah haji dan selama menunggu jemaah pulang dari Tanah Suci. Begitu seterusnya hingga musim haji berikutnya tiba. Berbagai jenis perdagangan dari mulai rempah ratus, bazar makanan, percetakan buku-buku agama Islam, warung makan, hingga jasa pengurusan haji mengelilingi kesemarakan masjid ini.

TRADISI mengunjungi Masjid Lebuh Aceh sebelum pergi haji kini semakin lama semakin pudar. Keramaian suasana semakin berkurang. Kini Masjid Lebuh Aceh hanya digunakan dua kali shalat Jumat dalam sebulan bergantian dengan Masjid Kapitan Keling yang juga berada di salah satu blok kota lama Georgetown ini.

Keberadaannya yang semakin renta menggerakkan sejumlah pelestari warisan budaya untuk memugar masjid ini. Pada akhir dekade 1990-an masjid yang sudah berumur lebih dari 200 tahun ini dipugar dan dikonservasi sebagaimana bentuk aslinya oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan Universiti Sains Malaysia dengan dana dari pihak pemerintah bandaraya Penang. Tidak tanggung-tanggung Gubernur Aceh pada saat itu, Profesor Syamsudin Mahmud, pun turut berkunjung pada saat bangunan dipugar.

Meski demikian, kompleks enklave ini kini masih terus menjadi sengketa. Meski statusnya sebagai tanah wakaf yang tidak dapat diperjualbelikan, letaknya yang strategis di pusat kota dan tingginya nilai lahan di Georgetown ini menjadikan kompleks bangunan di sekeliling Masjid Lebuh Aceh diincar banyak pihak. Isu-isu manajemen tanah wakaf, konservasi, dan kepentingan kapital menjadi mengemuka. Permasalahan ini cukup merisaukan banyak pihak, mengingat kompleks masjid ini merupakan warisan arsitektur sekaligus saksi sejarah bangsa kita di negeri tetangga, Malaysia.

Arif B Sholihah Dosen Jurusan Arsitektur, Universitas Islam Indonesia, Graduate Student University of Technology Malaysia

→ No CommentsTags: Arsitektur dan Desain